Oktober 31, 2020

Renungan Sabtu, 31 Oktober 2020

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan


Filipi 1:18-26 


Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 

Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik;tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 

Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu. 


Mazmur 42:2-5 


Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?  Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"  Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 


Lukas 14:1, 7-11 


Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:"Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."


Renungan


Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan kita melihat Tuhan Yesus sedang mengamati terjadi perubahan perilaku dari orang-orang yang ikut makan bersama-Nya dalam jamuan makan orang orang Farisi, yaitu memilih tempat duduk istimewa yakni tempat-tempat kehormatan. Atas apa yang dilihat, Tuhan Yesus menasihati mereka untuk membangun sikap rendah hati. Apa yang menjadi pengamatan Yesus ini tentu berdasarkan kebiasaan orang-orang setempat. Mereka suka memamerkan dirinya, suka memilih tempat-tempat terdepan dalam perjamuan dan lupa bahwa mungkin ada orang lain yang melebihi mereka. Kita boleh belajar belajar dari Tuhan Yesus sang guru sejati tentang kerendahan hati. Tuhan Yesus yang tidak memandang ke Allahan-Nya sebagai milik yang dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp 2:7-8).


Kita juga dapat belajar dari Maria tentang kerendahan hati. Atas kerendahan hati Maria-lah yang mendorong Allah untuk memilihnya sebagai ibu Putera-Nya Yesus. Maria menyadari bahwa ia dikaruniai oleh rahmat yang istimewa dengan menjadi Bunda Allah yang Maha Tinggi, namun ia tetap rendah hati, dengan menganggap dirinya sebagai hamba di hadapan Allah. Ia hanya mencari kehendak Tuhan, dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.

Melalui kidung Magnificat, kita mengetahui bahwa Maria menganggap segala yang baik pada dirinya sebagai karunia belas kasih Tuhan. Bukan sebuah hal yang harus di sombongkan. Justru sebaliknya dengan rahmat Tuhan, Bunda Maria hidup dengan rendah hati, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan dan sesama, dan ambil bagian dalam misi Keselamatan Kristus. Maka Hidup Kristiani akan lebih bermakna bila kita memiliki hidup yang serupa dengan Yesus dan meneladani Bunda-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Kerendahan hati membunuh setiap kesombongan diri kita. Kerendahan hati akan semakin menunjukkan jati diri kita sebagai putra putri terkasih Bapa. 

Amin

Oktober 30, 2020

Renungan Jumat, 30 Oktober 2020

 Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?


Filipi 1:1-11 


Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.  Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.  Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.  Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. 


Mazmur 111:1-6 


Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.  Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya. Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa. 


Lukas 14:1-6 


Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya.  Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?" Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" Mereka tidak sanggup membantah-Nya.


Renungan


Sudah merupakan hal yang biasa terjadi di kalangan pengusaha bila diantara mereka saling mengundang makan bersama pengusaha lain sebagai media untuk menjalin relasi agar bisnis mereka berjalan dengan saling menguntungkan. Relasi ini mereka bangun dengan duduk bersama di meja makan dengan saling memberikan informasi yang dapat membuka peluang bisnis baru yang lebih besar lagi. Tidak jarang melalui relasi yang saling menguntungkan ini justru masing-masing cenderung bungkam dan tidak berani mengkritik apalagi mengungkap hal-hal negative yang terjadi diantara mereka. Sementara jika masih ada yang berani mengungkap penyelewengan mereka akan dikucilkan dan matilah aktifitas usahanya.


Dalam injil hari ini Yesus diundang makan di rumah salah seorang pemimpin Farisi. Dalam perjamuan makan itu para ahli Kitab dan kaum Farisi selalu memperbincangkan Taurat serta kewajiban istirahat pada hari Sabat. Mereka menganggap diri wakil-wakil/ pemimpin yang setia menjaga segala peraturan dan ketetapan tentang Hari Sabat. Tidak heran kalau mereka selalu mengamati kalau-kalau Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Bagi mereka seseorang yang melanggar hukum sabat berarti merusak tatanan keselamatan dari Allah.


Sekalipun mendapat perlakuan istimewa dengan diundang makan, Yesus tidak mengikuti begitu saja pola pikir orang Farisi. Justru kesempatan itu digunakan Yesus untuk menyampaikan ajaran-Nya. Dengan menyembuhkan orang yang sakit busung air pada hari sabat , Yesus ingin meluruskan makna sabat yang sesungguhnya, bahwa Sabat dibuat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, membebaskan seluruh ciptaan dan berbuat kasih, dan bukan sekedar ketetapan yang mewajibkan istirahat pada hari sabat. Maka Yesus tidak perlu menunda-nunda untuk berbuat baik meskipun harus dilakukan pada hari sabat. Dan untuk meneguhkan pewartaan-Nya, agar Ahli Taurat dan kaum Farisi berani memaknai peraturan hari sabat secara benar sebagaimana mestinya, 


Yesus menyampaikan perumpaan berupa pertanyaan :..”siapa diantara kalian yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur; tidak segera menariknya ke luar, meski hari sabat?”. Dan tak satupun diantara mereka yang berani memberikan jawabannya. Di satu sisi mereka berpegang teguh pada ketetapan dilain pihak mereka berhadapan dengan kebenaran yang menyelamatkan.

Maka, dengan berani Yesus menyampaikan ajaran yang benar dan dengan tegas mengkritik sikap kaum Farisi yang keliru memaknai hari sabat. Agar semakin banyak jiwa terselamatkan, Yesus tidak menunda berbuat baik meskipun harus dilakukan pada hari sabat.


Melalui doa keluarga ini kita juga diingatkan untuk tidak menunda pertolongan bagi sesama yang menderita, dan berani mengungkap kebenaran sekalipun membuat kita dibenci dan dimusuhi banyak orang. Sebagai pengikut Kristus kita senantiasa diajak untuk menebar kasih karunia yang telah kita rasakan kepada sesama. 


Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita. Amin

Oktober 29, 2020

Renungan Kamis, 29 Oktober 2020

Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem


Efesus 6:10-20 


Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.


Mazmur 144:1-2, 9-10 


Dari Daud. Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!  Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu, Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu! 


Lukas 13:31-35 


Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"


Renungan


Banyak contoh orang yang telah rela berkorban bagi orang lain, tetapi masih ada juga yang tetap menutup hati bagi orang lain yang sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan orang orang yang ada disekitarnya. Beberapa waktu lalu masih dalam masa pandemi ini ada seorang keluarga terdampak menerima pembagian “sembako” dari salah satu kelompok kategorial yang mengadakan bakti sosial. Keluarga yang menerima bantuan itu mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian untuk keluarganya. Di depan para pengantar sembako, ibu itu langsung membuka paket sembakonya dan langsung membagi dua. Seorang pengantar tadi bertanya “kog dibagi dua bu, untuk apa bu?” Jawabnya “ tetangga sebelah rumah, tidak kristen , mereka tidak kalah miskin dari saya, mereka juga sangat butuh sembako ini. Biarlahseparo untuk mereka, saya tidak apa apa”. Jatahnya dibagi dua, rupaya ibu itu tidak tega melihat tetangga yang juga kekurangan.


Di sekitar kita tidak terlalu banyak orang yang rela berkorban bagi orang lain. Dalam masa pandemi yang terasa sulit sekarang ini, semakin banyak orang yang mencari aman untuk diri sendiri. Orang menjadi takut bila dirinya sendiri tidak cukup dan semakin banyak pula orang dengan berbagai cara berusaha agar dirinya tetap eksis meski kadang dengan cara cara yang jahat. Kalaupun ada orang yang nampaknya rela berkorban, biasanya sudah didahului dengan perhitungan untung-rugi yang sangat sangat cermat. Orang mau memberi, tetapi kadang masih disertai dengan pamrih dibelakangnya. Mau melayani, tetapi haus keinginan untuk penghargaan dirinya. Orang mau merendahkan diri, tetapi masih tetap mengharapkan pujian.


Merunut teks kitab suci hari ini kita tahu di Yerusalem berdiri bait suci dan banyak tokoh rohani. Di kota suci Yerusalem itu juga dipenuhi orang orang yang keras hati,orang orang yang tidak tulus hatinya dan tidak peka terahadap ajaran dari Yesus. Dalam bacaan tadi dikisahkan orang Farisi meminta Yesus untuk meninggalkan Yerusalem, karena Yesus akan dibunuh oleh Herodes.Ternyata Tuhan Yesus tidak takut, bahkan berbicara dengan tegas "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” Tuhan Yesus tetap mengatasi situasi yang dihadapinya, meski hidupnya terancam. Yesus sudah mengkalkulasi resiko tindakannya. Yesus sudah sadar bahwa sejak semula para nabi juga dibunuh di Yerusalem. Ia tahu akan ‘senasib’ seperti para nabi, Ia tetap setia dalam panggilan misiNya. Yesus terancam dibunuh,tetapi Ia tetap setia menjalankan tugas penebusannya untuk menyelamatkan semua manusia pendosa, sekalipun harus mati disalibkan.


Marilah kita masuk dalam hitungan orang yang mau berkorban meski pun mengandung resiko atas perbuatan baik kita. Marilah tetep berbuat bagi orang lain yang membutuhkan,meski tanpa sanjungan, pujian. Kita disebut murid murid Kristus kalau kita hidup saling mengasihi saudara saudari kita yang membutuhkan sekalipu kita tidak mendapatkan keuntungan darinya? 


Berkat Tuhan selalu meneguhkan kita.

Oktober 28, 2020

Renungan Rabu, 28 Oktober 2020

Orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru


Efesus 2:19-22 


Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. 



Mazmur 19:2-5 


Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. 



Lukas 6:12-19 


Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan


Saudara/i yang dikasihi Tuhan, Gereja didirikan dan dibangun oleh Yesus di atas dasar para rasul. Yesus memanggil para rasul dan memilih mereka. “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul”. Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus tidak berkarya sendirian dan Dia melibatkan kedua belas rasul-Nya. 


Yesus mengumpulkan mereka dan memberi bekal yaitu pengajaran dan teladan kasih. Para rasul datang untuk mendengarkan pengajaran Dia. Demikian pula, para rasul akan melakukan hal yang sama seperti yang telah diteladankan oleh Sang Guru yaitu mengajar dan memberikan teladan hidup dalam kasih di tengah-tengah masyarakat. Para rasul setelah dipanggil untuk mengikuti Yesus, mereka akan menjadi tim inti sekaligus rekan kerja dalam mengembangkan Jemaat (Kis. 2:42).


Melalui rahmat pembaptisan, kita dipanggil, dipilih, dan diutus dalam satu tim yaitu keluarga. Melalui rahmat itu pula, kita dipanggil untuk terlibat di dalam keluarga masing￾masing. Seringkali kita menemui tantangan dalam mengembangkan iman dalam keluarga, salah satunya ialah 

ketika tiap anggota keluarga berjalan sendiri-sendiri. Kita juga dipanggil untuk terlibat di dalam lingkungan, sebagaimana rahmat pembaptisan kita yang perlu dihayati di tengah lingkup masyarakat termasuk di dalam lingkungan. Tentu saja, ada banyak tantangan yang kita hadapi di dalam lingkungan saat kita hendak melaksanakan hidup menggereja yang total; namun tantangan yang ada tidak dapat dijadikan alasan untuk menghindar dari keterlibatan kita di lingkungan. Pelayanan yang total di lingkungan pun membutuhkan tim yang besar pula, semisal membentuk tim kunjungan dan bahkan kita pun siap sedia untuk menjadi pengurusnya.


Kita semua diajak untuk dapat bekerjasama satu sama lain, baik di dalam keluarga maupun dalam lingkungan. Cara yang bisa dicapai oleh kita ialah dengan tetap berpegang pada pengajaran Yesus Kristus serta menjaga ikatan persekutuan di dalam keluarga maupun lingkungan lewat semangat kasih. Kunci yang perlu kita pegang dalam bekerjasama ialah keterbukaan, saling percaya dan bertanggungjawab, terlebih lagi yakni saling mendoakan sesama anggota keluarga. 


Dalam Bulan ini, marilah kita juga belajar pada kerendahan hati Maria, agar kita semakin dimampukan untuk menjaga persatuan dan persekutuan dalam keluarga yang terus berkembang maju. Semoga, berkat Tuhan terus menuntun kita untuk dapat bekerjasama dalam tim kecil yaitu keluarga serta lingkungan kita demi keselamatan bersama. 


Berkat Tuhan melindungi langkah kita

Oktober 27, 2020

Renungan Selasa, 27 Oktober 2020

Kerajaan Allah diumpamakan biji sesawi


Efesus 5:21-33 


dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.



Mazmur 128:1-5 


Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu


Lukas 13:18-21 


Maka kata Yesus: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."


Renungan


Hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah diumpamakan biji sesawi. Biji sesawi yang lembut dan kecil, lebih kecil dari biji cabe itu mampu bertumbuh menjadi pohon yang besar, sehingga burung-burung dapat dengan nyaman tinggal didalam kerindangan daun dan ranting yang ada di dalamnya. Kerajaan Allah itu artinya Allah yang menjadi Raja, atau Allah yang meraja. Kalau Allah yang menjadi raja, Allah yang meraja berarti Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas kerajaan itu. Dalam kerajaan Allah , semua yang ada di dalamnya berlindung padaNya, termasuk kita adalah baik adanya.


Kerajaan Allah adalah kerajaan kedamaian, kerajaan sukacita dan kerajaan keadilan yang bersifat definitif dan abadi. Kalau Allah itu menjadi raja dan dikatakan semua baik adanya, tetapi kenyataannya masih ada hal yang tidak baik yang kita lihat, bahkan kita rasakan sehari hari disekitar kita. Masih ada kemiskinan, kejahatan, kebencian dan lain lain. Mengapa Hari ini Tuhan mengajar kerajaan Allah kepada kita dengan perumpamaan biji sesawi yang bijinya kecil yang ditabur di kebun lalu bertumbuh sampai menjadi tumbuhan yang besar. Tumbuhnya biji sesawi tidak begitu saja sekali jadi dan menjadi tumbuhan besar, tetapi melalui proses yang lama dan terproses pelan pelan. Ketika pohon sesawi berproses tumbuh, ia mengalami situasi nyaman karena mampu bertumbuh normal sebab nutrisi disekitarnya mendukung dan mendapatkan siraman air yang segar, sinar matahari cukup dan mulai tumbuh dan tampak subur. Suatu saat ketika masih sedang bertumbuh, ternyata mengalami situasi yang lain, yang tidak diharapkan. Ada gangguan hama di sekitarnya, mengalami kekeringan karena hujan tidak turun, juga mengalami badai yang mematahkan sebagian rantingnya dan mengancam tumbangnya pohon itu. Bahkan burung burung ada disekitarnya juga membuang kotoran di dalamnya dan sebagainya.


Kalau gambaran kerajaan Allah, kerajaan damai sejahtera, kerajaan kebaikan itu mengalami proses yang tidak mudah dan dimulai dari hal hal yang kecil, remeh demikian juga sebagai orang yang mau berproses dalam hidup beriman akan mengalami proses seperti tumbuhnya biji sesawi sampai menjadi pohon yang besar, dimana banyak burung burung bersarang di dalamnya dengan damai sejahtera. Dari perumpamaan tersebut, kita pun akan mengalami banyak kesulitan, persoalan dalam hidup kita. Kita akan mengalami proses tumbuh dan tidak semua proses itu menyenangkan. Kadang kita harus mengalami kesulitan dalam kesehatan, pekerjaan dalam ekonomi, dalam relasi  dan dalam berbagai hal.


Biarkan Tuhan selalu menyertai dalam perjalanan hidup keluarga kita untuk terus bertahan dan tetap bertumbuh subur dan menghasilkan buah meski mengalami banyak halangan. Yang terpenting bagi kita, bagi keluarga kita untuk terus tetap hidup berjuang dan tetap selalu memiliki pengharapan, sekalipun tampak sia sia. Sekalipun mengalami kesulitan, hayati itu semua sebagai silih untuk keselamatan kita. Tuhan itu setia, dan tidak pernah ingkar akan janjinya. Kita mohon campur tangan Tuhan untuk menjadikan hidup keluarga kita terus berproses seperti proses tumbuhnya biji sesawi agar berguna bagi semua orang, untuk menjadi tanda hadirnya kerajaan Allah di dunia ini. 


Berkat Tuhan selalu meneguhkan harapan iman kita.

Oktober 26, 2020

Renungan Senin, 26 Oktober 2020

Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih


Efesus 4:32 - 5:8


Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.  Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono  karena hal-hal ini tidak pantas tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang


Mazmur 1:1-4, 6 


Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. 


Lukas 13:10-17 


Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat."  Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.


Renungan


Syukur kepada Allah kita dapat bertekun sampai sekarang. Hari ini kita mendengarkan kisah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit. Peristiwa itu terjadi di rumah ibadat ketika Tuhan Yesus sedang mengajar. Di tempat itu ada seorang perempuan yang sakit sampai punggungnya bungkuk tidak dapat berdiri tegak. Rupa-rupanya perempuan ini sudah menderita sakitnya itu selama 18 tahun. Lama sekali dia menderita. Kita sakit flu beberapa hari saja sudah sangat susah. Tentu ketika melihat orang yang menderita, Tuhan Yesus tidak tinggal diam. Maka dipanggilnya perempuan itu. 


Lalu Tuhan Yesus berkata: hai ibu, penyakitmu telah sembuh”. Dan Tuhan Yesus meletakkan tanganNya atas perempuan itu dan seketika itu juga perempuan itu berdiri. Dia sudah sembuh dari sakit. Hati Tuhan Yesus yang penuh belaskasihan, tidak rela melihat orang menderita. Maka tanpa diminta, tanpa dimohon, Tuhan Yesus menyembuhkan perempuan itu. Perbuatan baik Tuhan Yesus itu ternyata tak begitu cocok dengan kepala rumah ibadat. Karena menurut kebiasaan orang Yahudi, pada hari Sabat orang hanya beribadat, hari Sabat adalah hari yang dikuduskan. Kepala rumah ibadat itu kemudian berkata di depan orang-orang yang hadir di situ: ada 6 hari untuk bekerja. karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan hari sabat. 


Kepala rumah ibadat itu bukannya bergembira dan bersukacita karena ada orang yang menderita ditolong dengan disembuhkan dari sakit sehingga orang itu tidak menderita lagi. Yang tidak diperbolehkan dilakukan pada hari Sabat adalah bekerja, mencari nafkah, sibuk dengan urusan dan kepentingan sendiri sehingga mengabaikan hari beribadat, menguduskan Tuhan. Sedangkan yang dilakukan Tuhan Yesus bukan bekerja, tetapi menolong orang yang sudah 18 tahun menderita. Padahal orang Yahudi setiap hari Sabat juga melepaskan lembu dan keledainya untuk diberi makan dan minum. Jika pekerjaan sehari-hari saja tetap dilakukan meski pada hari Sabat, mengapa menolong orang menderita tidak boleh? Dari peristiwa yang terjadi ini kita dapat semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus itu berbelas kasih pada mereka yang menderita. Hati Tuhan Yesus yang penuh  belaskasih selalu merasakan penderitaan orang lain. Maka meski, perempuan itu tidak minta disembuhkan, Tuhan Yesus menyembuhkanNya. Oleh karena itu, kita murid-murid Tuhan Yesus hendaknya mengikuti teladanNya: untuk berbuat baik, untuk menolong orang yang menderita, yang membutuhkan pertolong tidak perlu menunggu diminta; tidak perlu menunggu dimohon. Dan berbuat baik dengan menolong orang yang membutuhkan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Tidak ada pembatasan waktu dan tempat dalam berbuat baik membantu orang yang membutuhkan.


Sebagai murid-murid Tuhan Yesus kita mengikuti teladan Tuhan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Dengan erdoa setiap hari, kita memohon agar kita selalu dilimpahi rahmat Allah sehingga keluarga kita yang selalu tekun berdoa serta tidak lelah berbuat baik dengan menolong sesama yang membutuhkan terutama sesama yang menderita. Meski ada yang tidak senang dengan perbuatan baik kita, tetaplah tekun berbuat baik dengan menolong sesama yang membutuhkan sehingga keluarga kita sungguh menjadi keluarga yang melimpah dengan kemurahan hati. 


Berkat Allah menyertai kita.

Oktober 25, 2020

Renungan Minggu , 25 Oktober 2020

Kasihilah Tuhan Allah dan Sesamamu manusia


Keluaran 22:21-27 


"Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya — pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."


Mazmur 18:2-4, 47, 51 


Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku. Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku, Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya." 


1 Tesalonika 1:5-10 


Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.


Matius 22:34-40 


Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."


Renungan


Setiap keluarga Kristen umumnya ada salib di rumah masing-masing. Entah itu digantung pada dinding maupun ditempatkan di atas meja atau juga ada yang dipakai sebagai kalung. Bagi kita salib bukan hanya sebatas tanda pengenal, tetapi merupakan pengakuan iman di depan banyak orang bahwa dirinya adalah murid Tuhan Yesus. Jika kita pandangi salib, kayu yang vertikal (tegak lurus) mengungkapkan cinta kepada Allah, dan kayu yang horisontal (menyamping) mengungkapkan cinta kepada sesama. Dan tubuh Tuhan Yesus yang tergantung di salib mengungkapkan kurban. Dengan memasang salib di rumah maupun mengenakan kalung salib, orang Kristen mengakui imannya di depan banyak orang bahwa salib adalah jalan Kasih yang bersedia menderita sampai wafat yang ditempuh Tuhan Yesus demi melaksanakan kehendak Allah, BapaNya untuk menyelamatkan manusia dari dosa.


Karena Salib merupakan jalan Kasih yang ditempuh Tuhan Yesus menyelamatkan kita dari dosa, maka jalan kasih itulah yang menjadi jalan kita semua yang beriman kepada Tuhan Yesus. Jalan Kasih itulah yang ditegaskan Tuhan Yesus hari ini. Ketika ditanya seorang ahli Taurat: guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum taurat? dengan tegas dan jelas Tuhan Yesus menjawab: kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. itulah hukum yang terutama dan pertama. dan hukum yang ke dua, yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.


Mengapa Tuhan Yesus menegaskan ajaran Kasih? Karena Allah adalah Kasih. Apapun yang dilakukan Allah terhadap manusia adalah karena kasih. Dan karena KasihNya itu Allah mengutus Yesus, Allah Putra yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Tuhan Yesus rela menderita dan wafat di kayu salib demi Kasih kepada kita. Dalam hidup, kata-kata yang diucapkan, perbuatan-perbuatan yang dilakukan dan sengsara yang dijalaniNya sampai wafat di kayu salib, Tuhan Yesus mewujudkan secara nyata KasihNya kepada Allah, BapaNya dan KasihNya kepada kita. Maka ke dua hal: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak dapat dipisahkan. 


Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan mengasihi Allah, tanpa mengasihi sesama kita. Dan karena kasih itu bersumber dari Allah, maka tidak mungkin kita mengasihi sesama tanpa mengasihi Allah. Dua hal itu tidak terpisahkan bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang. Hal penting yang tak boleh dilupakan dalam mengasihi adalah kurban. Maka pada salib tergantung tubuh Tuhan Yesus. Tubuh Tuhan Yesus yang tergantung pada salib mengungkapkan bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama selalu membutuhkan kurban. Dan kurban itu sakit dan tidak enak. Tidak kurban yang enak dan menyenangkan. 


Maka jika kita selalu mencari yang enak dan menyenangkan, kita tidak melaksanakan kasih. Dari hidup ibu Maria kita juga menyaksikan dengan nyata bahwa ibu Maria mengikuti jalan Kasih yang ditempuh Yesus, putranya, sampai di bawah salib. Ibu Maria tidak mencari yang enak dan menyenangkan. Dengan bertekun doa setiap hari, kita mohon kepada Tuhan agar berkenan  menaungi kita sehingga kita memiliki kekuatan untuk mengasihi Allah dan sesama. 


Apalagi di saat pandemi sekarang ini, kita diajak untuk lebih mengasihi satu sama lain demi keselamatan bersama. Di dalam keluarga kita, kita berusaha agar tidak saling menyusahkan satu sama lain, saling membantu dan mengingatkan. Semua itu sebagai wujud nyata kita mengasihi sesama.


Tuhan Yesus Memberkati

Oktober 24, 2020

Renungan Sabtu, 24 Oktober 2020

Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian


Efesus 4:7-16 


Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. 


Mazmur 122:1-5 


Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. 


Lukas 13:1-9


Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"


Renungan


Biasanya, reaksi awal ketika kita mendengar ada orang, entah saudara, tetangga atau teman yang mengalami peristiwa sial, apes, bahkan merugikan adalah selain muncul perasaan iba kasihan, juga muncul ‘sedikit’ perasaan yang lain. Merasa penasaran pada penyebab dia terkena kesialan itu. ‘Ada salah apa, ada dosa apa, mungkin memang sudah waktunya, kena getahnya (karma) dan seterusnya’. Kadang kita akhirnya malah merasa memiliki hidup yang lebih baik dan suci, lalu tanpa sadar menghakimi orang tersebut. ‘Ya pantas saja hidupnya susah menderita, kan dia begini begitu, pasti karena banyak salah dan dosa. Ngga kayak ..... ‘. Apalagi kalau memang orang itu termasuk mereka yang pernah membuat kita sakit hati, malah semakin menjadi-jadi pikiran kita. Akan tetapi, itulah sikap yang ditegur keras oleh Tuhan Yesus dalam bacaan hari ini yang dapat kita lihat di ayat 2 dan ayat 4. sangkamu ..... ! 


Coba bayangkan saja, Tuhan Yesus langsung dengan keras menegur kita saat ini ketika kita lagi ngrasani/membicarakan keburukan yang dialami orang lain. Sangkamu .... !Tuhan Yesus tidak ingin agar kita menjadi orang yang sibuk mengurusi dosa orang lain, sibuk menilai hidup orang lain apakah sudah berbuah atau belum, buah baik atau buah pahit, dll. Terlalu sibuk sehingga lupa melihat ke dalam dirinya sendiri, lupa menata diri untuk juga bertobat dari dosa-dosa kita. “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (Luk 13:5b). Tuhan ingin kita berubah lalu berbuah. Inilah perbedaan cara Tuhan dengan cara manusia dalam memandang atau menyikapi penderitaan. Cara manusia adalah cara yang penuh kemasaman, pembenaran diri, sikap menghakimi, merasa diri lebih baik, benar bahkan suci. Dan memvonis orang lain berdasar penderitaan yang dialami, seolah-olah tidak ada waktu kesempatan lain.


Cara Tuhan adalah kasih dan kemurahan hati. Kita menyadari bahwa setiap manusia mendapat tugas yang sama dengan waktu yang terbatas. Tuhan memberi perintah yang sama untuk kita semua yakni untuk bertobat dan menghasilkan buah. Dan Tuhan juga memberikan ‘jatah’ waktu atau kesempatan yang sama dalam hidup untuk melakukan perintah tersebut. Pada akhirnya, setiap orang akan mempertanggungjawabkan jatah waktu hidupnya tersebut pada Tuhan. Maka selagi diberi waktu, segeralah bertobat, mengarahkan hidup pada Tuhan dan menghasilkan buah. Inilah yang dimaksud cara Tuhan. Tuhan tidak memvonis begitu saja, seperti manusia. Begitu murah hati Tuhan sehingga diberinya manusia kesempatan lagi. Perumpamaan pohon ara di atas menggambarkan kemurahhatian Tuhan. Tuhan begitu murah hati,memberikan kesempatan pada pohon ara setahun lagi untuk berbuah. 


Sama seperti kita, yang saat ini didapati tidak berbuah, kalaupun ada ya buah yang pahit asam karena berisi nyinyiran pada hidup orang lain. Untuk itulah kita diberi jatah waktu tambahan oleh Tuhan untuk bertobat, untuk sungguh-sungguh membangun hidup yang berkenan di hati Tuhan. Jangan mengurusi dosa orang lain, tapi menyadari bahwa Tuhan masih memberi waktu bagi semua orang termasuk diri kita untuk bertobat. Mari melihat hidup kita masing-masing, apakah sudah berbuah atau tidak? Jangan-jangan kita juga termasuk golongan pohon ara yang kering dan pahit.


Bagi kehidupan keluarga kita masing-masing, kita dapat mengambil niat untuk mulai bertumbuh di dalam Tuhan. Misalnya membangun niat untuk berhenti membicarakan keburukan tetangga di sekitar kita, berhenti membanding-bandingkan satu sama lain dalam keluarga, berhenti merasa ‘lebih’ seolah yang lain bukan apa-apa. Semua sikap itu membuat keluarga kita menjadi pohon ara yang tidak menghasilkan buah yang dikehendaki Tuhan. Dalam kesempatan yang indah ini pula, bersama ibu Maria, marilah kita sekeluarga, membangun niat untuk memperbaiki diri, sungguh-sungguh bertobat dan menghasilkan buah. Tuhan memberi kita waktu dalam hidup, maka jangan disia-siakan dengan percuma. Semoga kelak, ketika Tuhan mendapati diri kita kembali, kita sudah menghasilkan buah yang berkenan di hati-Nya. 


Tuhan Yesus memberkati!

Oktober 23, 2020

Renungan Jumat , 23 Oktober 2020

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar


Efesus 4:1-6 


Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.


Mazmur 24:1-6 


Mazmur Daud. TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." 


Lukas 12:54-59 


Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."


Renungan


Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika dunia masih belum memiliki teknologi yang secanggih seperti sekarang ini, manusia dapat sungguh hidup dekat dengan alam sekitarnya. Ketika alam menunjukkan tanda-tanda yang berbeda dari biasanya, manusia bisa mengenali dan bereaksi sesuai dengan yang dibutuhkan. Manusia membaca tanda alam lalu tahu apa maksudnya. Misalnya, orang-orang yang tinggal di daerah gunung, akan mulai bersiap-siap untuk mengungsi ketika mereka melihat bahwa hewan-hewan mulai turun menuju dataran yang lebih rendah. 


Hal itu biasanya menjadi tanda bahwa sedang terjadi sesuatu di gunung, entah kebakaran, atau bahkan gejala gunung meletus. Begitu pula ketika banyak semut mulai merayap naik di dinding, biasanya tanda bahwa akan ada banjir. Peristiwa ini juga yang diangkat oleh Yesus ketika berkata-kata pada orang banyak bahwa kita dapat melihat alam sekitar dan menilai hal apa yang akan terjadi kemudian (bdk. Luk 12:54-55). Betapa manusia peka pada tanda-tanda alam sekitarnya dan berupaya menjalani hidup selaras dengan alam sekitar tersebut. 


Melalui bacaan hari ini, Tuhan Yesus menghendaki agar manusia juga memiliki kepekaan untuk menilai segala hal yang terjadi dalam hidup dengan terang kacamata iman. Yesus menyampaikan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini adalah tanda (iman) bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Maka manusia harus peka pada tanda tersebut dan menyadarinya dengan segera bertobat. Oleh karena itu, Tuhan Yesus dengan keras mengatakan “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:56). Yesus hadir di tengah mereka, mengadakan berbagai mujizat dan memberikan pengajaran dengan tujuan agar manusia bertobat. Yesus ingin agar mereka memiliki kesadaran yang sungguh-sungguh bahwa Kerajaan Allah sudah dekat maka siap sedialah dan bertobatlah. Segeralah ubah cara hidup yang tidak berkenan pada Allah. Berdamailah dengan musuhmu, jangan ditunda-tunda, kerajaan Allah sudah dekat. Karena bila semua sudah terlambat, maka tidak ada pilihan selain menjalani hukuman(membayar hutang).


Pesan Yesus ini pun berlaku bagi kita saat ini. Betapa kita masih seringkali abai,bersikap santai, tidak memiliki kesadaran atau rasa ‘segera’ untuk bertobat memperbaiki diri. Berbagai peristiwa hidup sehari-hari yang kita jalani seringkali tidak kita maknai dalam terang kacamata iman. Kita menjalani hidup seolah-olah selalu masih ada banyak waktu yang kita miliki untuk bertobat, nanti saja, besok-besok saja. Terlebih dapat dilihat dari tindak tanduk kita sehari-hari seperti: suka menjelekkan orang lain karena masih memelihara iri hati, tidak bisa tulus ikut bersukacita pada orang lain karena kurang bersyukur, hati tidak damai karena masih menyimpan dendam dan tidak mau mengampuni, terlalu sibuk dengan urusan duniawi, dll. Kita merasa selalu masih ada waktu maka selalu menunda-nunda, nanti saja, urusannya masih lama. Lupa bahwa hidup kita tidak selamanya dan bahwa sewaktu-waktu bisa langsung dipanggil Tuhan.


Pesan Yesus ini terlebih dapat menjadi bahan renungan untuk keluarga kita di saat ini. Apakah keluarga kita masih seringkali abai kemudian menjalani hidup dalam keluarga seolah-olah tanpa kesadaran bahwa Kerajaan Allah sudah dekat? Misalnya: orang tua tidak menjalani peran sebagai pendidik iman bagi anak-anaknya dengan tidak mengajak doa bersama, membaca kitab suci, dsb; atau orang tua yang masih memaksakan kehendak dan ambisi pribadinya pada anak-anak, atau suami isteri masih sering mengutamakan ego masing-masing sehingga tidak saling mendengarkan dengan penuh kasih, atau juga si anak yangjarang berkomunikasi dengan orang tua karena sibuk dengan teman-temannya saja.


Yesus menghendaki agar kehidupan keluarga kita terbiasa peka untuk menilai berbagai tanda iman yang ditemui dalam hidup sehari-hari. Dan ada pribadi tepat yaitu  Maria yang dapat menemani dan menyertai kehidupan keluarga kita. Ibu Maria membantu keluarga kita agar hari demi hari semakin peka dan mengenali kehadiran Putera-Nya. Maria, doakanlah kami anak-anakmu.


Tuhan Yesus Memberkati

Oktober 22, 2020

Renungan Kamis, 22 Oktober 2020

Aku datang untuk melemparkan api ke bumi


Efesus 3:14-21 


Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.


Mazmur 33:1-2, 4-5, 11-12, 18-19 


Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.



Lukas 12:49-53 


"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."


Renungan


Jika membaca Injil hari ini mungkin kita akan merasa bingung dan bertanya-tanya. Bukankah Yesus datang untuk membawa damai? Lalu kenapa ditulis di dalam Injil bahwa Yesus datang membawa pertentangan? Kita akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, dan mungkin akan mengangguk-angguk dan berkata “Oh ini alasannya kenapa saya sering berantem dengan anak saya. Oh ini alasannya kenapa saya selalu tidak bisa sependapat dengan teman dan saudara-saudara saya.” Secara spontan kita akan langsung melontarkan pernyatakan dan berfikir demikian, seolah-olah kita akan menemukan pembenaran atas segala pertengkaran, pertentangan dan perbedaan pendapat yang selama ini kita alami. Namun jika kita memahami dan meresapi Injil ini secara lebih mendalam, bukan itu yang hendak disampaikan dalam Injil hari ini. 


Lalu apa maksudnya?.Dalam Injil tersebut sudah tertulis dengan jelas “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!”. Perlu kita semua ketahui dan sadari, bahwa dalam Gereja  api dilambangkan sebagai kehidupan, kelahiran, kasih dan Roh. Maka kedatangan Tuhan Yesus ke dunia adalah melemparkan kehidupan, kelahiran, kasih dan Roh yang Tuhan Yesus berikan kepada kita sungguh terwujud dalam hidup sehari-hari dan menyebar ke seluruh bumi. 


Lalu apa maksudnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa kedatanganNya bukan membawa damai tetapi pertentangan? Menjadi seorang Kristiani kita akan mengalami banyak pertikaian, pertentangan dan perbedaan pendapat. Hal tersebut akan terjadi kepada kita, entah itu pertentangan keluarga, masyarakat sekitar, teman terdekat, teman kerja, dll. Semua itu akan terjadi di dalam hidup kita setiap harinya. Akan ada banyak orang yang tidak sepaham dan sependapat dengan pikiran dan kepercayaan kita, akan selalu ada pertikaian bahkan penolakan-penolakan terhadap para murid Kristus, bahkan hal tersebut bisa terjadi antara kita dengan orangtua kita/pasangan kita. 


Semua hal tersebut merupakan salib bagi kita, dan kita sebagai orang Kristiani diminta untuk memikul salib kita masing-masing dengan setia. Pertikaian dan pertentangan merupakan salah satu salib harus kita pikul. Dari pertikan dan perbedaan pendapat yang kita alami, kita kembali dituntut atas pengampunan. Setiap dari kita pasti akan mengalami sakit hati dan kecewa, namun sebagai murid Kristus kita diminta untuk tetap mengasihi dan mengampuni. Pertikaian dan pengampunan menjadi satu paket dalam kehidupan kita. Jika berani bertikai berani berdebat maka kita juga harus rela untuk mau mengampuni. 


Seperti halnya Tuhan selalu mengampuni setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan, begitu juga kita. Kita harus mampu untuk mengampuni sesama kita yang melakukan kesalahan dan kita juga harus berani untuk meminta ampun jika kita bersalah. Karena pengampunan membawa kita kepada Kasih Allah.


Tuhan Yesus Memberkati

Oktober 21, 2020

Renungan Rabu, 21 Oktober 2020

 Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan


Efesus 3:2-12 

Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.


Lukas 12:39-48 


Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu:Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."


Renungan


Bacaan yang kita dengarkan dan renungkan hari ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari bacaan Injil kemarin, yaitu tentang kedatangan Tuhan. Tidak ada seorang manusia pun yang tahu kapan saatnya Tuhan datang. Oleh karena itu, kita diajak untuk selalu menyiapkan diri seperti hamba yang selalu berjaga menantikan kedatangan tuannya pulang dari pesta perkawinan yang tidak diketahui saatnya. 


Hari ini Tuhan Yesus menggambarkan kedatangan Tuhan seperti pencuri yang datang masuk ke rumah yang tidak diketahui saatnya. Maka Tuhan Yesus kembali mengingatkan agar kita selalu siap sedia menyambut kedatangan Tuhan: hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan. Kemudian Petrus bertanya: Tuhan, kamikah yang engkau maksudkan untuk perumpamaan itu atau juga semua orang? Tuhan Yesus tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Petrus ini. Selanjutnya Tuhan Yesus menceritakan dua model hamba. 


Model yang pertama hamba yang setia dan bijaksana. Hati hamba ini terikat dengan tuannya sehingga meskipun tuannya sedang pergi dan tidak diketahui kapan datangnya, dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia hamba yang setia dan bijaksana. Setia karena tetap melaksanakan tugasnya meski tuannya tidak berada di rumahnya. Bijaksana, karena dia menyadari apa yang berkenan pada tuannya. Maka dia tidak tergoda untuk bertindak seenaknya. Oleh Tuhan Yesus hamba ini disebut berbahagia karena tuannya akan memberikan penghormatan padanya dengan diberi kepercayaan lebih besar, yaitu pengawas segala milik yang dimiliki tuannya.

 

Model yang ke dua adalah hamba yang hatinya tidak terikat pada tuannya. Ketika tuannya tidak di rumah, dia merasa tuannya tidak melihat dan mengawasi, maka makan minum seenaknya sampai mabuk serta berbuat jahat pada hambahamba lainnya. Yang ada di dalam hatinya adalah menyenangkan dirinya sendiri, bukan menyenangkan tuannya. Maka ketika tiba-tiba tuannya datang, tentu dia akan marah dan membinasakan hamba yang jahat itu. Menjadi sangat jelas yang dimaksud Tuhan Yesus dengan selalu berjaga-jaga dan menyiapkan diri dalam menantikan kedatangan Tuhan yang tidak diketahui kapan saatnya. 


Tuhan Yesus mengajak untuk setia dan bijaksana dengan tetap melaksanakan tugas kita sampai Tuhan datang. Apa yang kita kerjakan sebagai persiapan menantikan kedatangan Tuhan? Selalu menjalin kedekatan hati dengan Tuhan melalui doa-doa dan mendengarkan sabda Allah baik secara pribadi maupun bersama dalam keluarga, lingkungan, setia pada kehidupan keluarga; tulus berbagi kemurahan hati khususnya kepada mereka yang menderita;berjuang untuk menjadi saksi Kristus dalam pekerjaan dan menjadi garam dan terang masyarakat. 


Meski kita tidak tahu kapan Tuhan datang dalam peristiwa akhir jaman secara pribadi yaitu saat kematian, namun kita tetap setia dan bijaksana melaksanakan tugas-tugas kita. Janganlah kita menjadi melalaikan tugas karena tidak tahu kapan Tuhan datang dengan bertindak seenaknya dan melakukan kejahatan dan dosa. Mohon berkat Allah agar kita tetap setia dan bijaksana dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Mari kita saling menguatkan agar tetap setia dan bijaksana menjalani hidup di dunia ini sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri menantikan kedatangan Tuhan. 


Berkat Allah menyertai kita.

Oktober 20, 2020

Renungan Selasa, 20 Oktober 2020

Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang


Efesus 2:12-22 


bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",  karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. 


Mazmur 85:9-14


Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan ?Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.


Lukas 12:35-38 


"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.


Renungan


Ada seorang pemilik warung Mie Ayam di kota Blitar yang memiliki dua pegawai bernama Bima dan Farel. Bima seorang yang rajin dan selalu siap, mulai dari menyediakan mie, sayuran dan bumbu, sampai pakaian memasak yang dikenakan sehingga ketika ada pelanggan datang, dia dengan cepat memasak dan menyajikan pesanan. Sedangkan Farel selalu saja masih belum siap ketika pelanggan datang, maka seringkali pelanggan menunggu cukup lama. Dalam satu warung yang kecil dan pegawainyaa hanya dua saja, yang satu selalu siap melayani pelanggan. 


Kesiapan itulah yang diingatkan oleh Tuhan Yesus hari ini. Bahwa hidup kita setiap hari adalah kesempatan untuk menyiapkan diri menerima kedatangan Tuhan yang tidak pernah diketahui waktunya. Kedatangan Tuhan yang tidak diketahui waktunya itu digambarkan Tuhan Yesus seperti seorang tuan yang pergi menghadiri pesta perkawinan. Kedatangan tuan itu tidak diketahui waktunya. Maka para hamba yang menantikan kedatangan tuannya itu harus selalu siap, sehingga ketika tuannya datang dan mengetok pintu, dia langsung membukakan pintu. 


Tuhan Yesus menyatakan hamba yang selalu berjaga-jaga itu berbahagia karena akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan dari tuannya, bahwa tuannya itulah yang akan melayani hambanya yang berjaga-jaga. Dua kali Tuhan Yesus menyatakan berbahagia bagi hamba yang berjaga. Dengan SabdaNya ini Tuhan Yesus mengajak para muridNya untuk selalu menyadari bahwa hidup kita setiap hari merupakan rangkaian kesempatan menyiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. 


Tuhan pasti datang pada akhir jaman. Sering orang menyebutnya hari kiamat. Kapan akhir jaman atau hari kiamat itu terjadi? Tidak ada seorang manusiapun yang mengetahuinya. Meski demikian dalam banyak kesempatan dan peristiwa Tuhan selalu datang, hadir menyertai perjuangan hidup kita dan berkarya menyelamatkan kita. Tuhan hadir dalam diri anak-anak, orang tua, ayah, ibu dan saudara yang selalu mengajak kita untuk melakukan yang baik dan benar di hadapan Tuhan. 


Tuhan hadir dan mengajak kita untuk berbagi hidup bagi mereka yang menderita dan membutuhkan pertolongan kita. Tuhan hadir ketika kita berdoa dan beribadat dalam keluarga, lingkungan. Tuhan hadir sakramen yang kita rayakan. Tuhan hadir dalam diri kita yang mengunjungi orang sakit. Tuhan hadir dalam diri teman, sahabat, tetangga yang memperingatkan serta memberi nasihat agar kita selalu berkata dan berbuat baik pada orang lain. Singkat kata, dalam setiap peristiwa Tuhan datang dan mengundang kita untuk memperoleh keselamatan yang 

abadi. 


Apakah kita selalu siap siaga menyambut kedatangan Tuhan dalam setiap peristiwa sehari-hari? Kedatangan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa itu mengajak kita untuk selalu siap menyambut kedatangan Tuhan pada akhir jaman secara pribadi, yaitu dalam peristiwa kematian. Kita tidak tahu kapan akhir jaman diri kita sendiri, kapan kita mengalami kematian? Maka kita diingatkan Tuhan Yesus untuk senantiasa berjaga agar kita siap menyambut kedatangan Tuhan. Jika kita selalu menyiapkan diri setiap hari, maka ketika Tuhan datang dalam peristiwa kematian, kita pasti siap. Oleh Tuhan Yesus, mereka yang selalu menyiapkan diri disebut berbahagia karena akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan Allah sendiri. 


Berkat Allah menyertai kita


Oktober 19, 2020

Renungan Senin, 19 Oktober 2020

 Tuhan Yesus menyebut orang yang dikuasai ketamakan adalah bodoh

Efesus 2:1-10 


Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita , oleh kasih karunia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.


Mazmur 100:2-5 


Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.


Lukas 12:13-21 


Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."


Renungan


Hari ini Tuhan Yesus mendengarkan pengaduan seseorang yang menghadapi soal berbagi harta warisan. Atas pengaduan ini Tuhan Yesus menjawab: Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara kamu? Jawaban Tuhan Yesus ini menyatakan bahwa soal pembagian harta warisan ada yang diberi kewenangan untuk itu, yaitu hakim atau pengantara yang tugasnya merundingkan pembagian warisan. Atau dengan kata lain,

Tuhan Yesus menyatakan bahwa urusanNya bukan soal harta duniawi. 


Selanjutnya Tuhan Yesus memperingatkan orang banyak yang berkerumun di sekitarNya agar berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung diri pada kekayaannya itu.

Tuhan Yesus memperingatkan agar berjaga dan waspada terhadap ketamakan yaitu keinginan hati semua manusia yang tidak pernah cukup memiliki harta kekayaan. Entah yang miskin maupun yang kaya, semua orang cenderung tidak akan pernah berhenti mengumpulkan dan menumpuk harta kekayaan. Padahal hidup manusia itu tidak tergantung dari harta yang dimiliki. Untuk melengkapi peringatanNya itu Tuhan Yesus kemudian menceritakan seseorang yang dikuasai ketamakan akan harta kekayaan. Cerita Tuhan Yesus ini mengajak banyak orang untuk merenungkan bahwa Ketamakan membuat seseorang menjadi sangat egois, yaitu hidup untuk dirinya sendiri. Maka dalam cerita Tuhan Yesus tadi banyak kata aku dan ku (ayat 17-18). Selain itu, ketamakan membuat seseorang congkak bahwa kegembiraan, kesejahteraan, ketenangan hidup dapat diberikan oleh timbunan kekayaan yang dimiliki (ayat 19). Orang yang dikuasai ketamakan itu lupa bahwa hidupnya di dunia ini tidak tergantung dari timbunan harta yang dimiliki. Tanpa diduga, orang itu dipanggil Tuhan. Lalu untuk siapa harta yang ditimbunnya itu? Tuhan Yesus menyebut orang yang dikuasai ketamakan adalah bodoh. Karena untuk siapa timbunan harta yang dimiliki ketika dirinya dipanggil Tuhan? 


Sebagai penutup, Tuhan Yesus memberikan nasehat yang sangat penting bahwa timbunan kekayaan akan sia-sia jika tidak kaya di hadapan Allah.

Yang menjadi pertanyaan kita: bagaimana dapat kaya di hadapan Allah? Kaya di hadapan Allah adalah kesadaran bahwa hidup kita ini tidak selesai di dunia ini, tetapi kembali kepada Allah. Dan Allah telah menetapkan tujuan penciptaan segala sesuatu di muka bumi, yaitu memenuhi kesejahteraan semua manusia. Gunakalan harta kekayaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Allah. 


Maka kaya di hadapan Allah berarti murah hati berbagi kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan dan bantuan kita, yaitu mereka yang miskin, lemah dan menderita.

Mohon berkat Allah agar keluarga kita memiliki rasa syukur kepada Allah berapapun harta kekayaan yang kita miliki dan masing-masing anggota keluarga kita berjuang untuk menjadi kaya di hadapan Allah. 


Tuhan Yesus Memberkati


Oktober 18, 2020

Renungan Minggu, 18 Oktober 2020

Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya


Yesaya 45:1, 4-6 


Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup:Oleh karena hamba-Ku Yakub dan Israel, pilihan-Ku, maka Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain


Mazmur 96:1, 3-5, 7-10 


Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit. Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara bangsa-bangsa:"TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran."


1 Tesalonika 1:1-5 


Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.


Matius 22:15-21 


Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."


Renungan


Tuhan Yesus hari ini menghadapi para pengikut Herodes yang dikenal sebagai orang-orang Herodian. Bersama para murid orang Farisi, mereka disuruh oleh orang-orang Farisi untuk mengajukan pertanyaan untuk menjerat Tuhan Yesus: Apakah diperbolehkan membayar kepada kaisar atau tidak? Yang dimaksud dengan kiasar di sini adalah kaisar Romawi yang saat itu sedang menjajah bangsa Yahudi. 


Jika Tuhan Yesus menjawab, boleh, maka berarti Tuhan Yesus membantu penjajah yang menindas warga masyarakat Yahudi. Namun jika menjawab, tidak boleh, maka Tuhan Yesus melawan Kaisar. Dengan demikian, menjawab boleh, salah; menjawab tidak boleh juga salah. Karena tahu bahwa pertanyaan itu untuk menjerat, maka Tuhan Yesus kemudian meminta agar mereka menunjukkan mata uang untuk membayar pajak, lalu bertanya: Gambar dan tulisan siapakah ini? Mereka menjawab: Gambar dan tulisan kaisar. Selanjutnya Tuhan mengatakan: Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. Ada dua hal penting yang perlu disadari dari sabda 

Tuhan Yesus tadi. Gambar dan tulisan yang ada dalam mata uang menunjukkan pemiliknya. Maka kaisarlah pemilik mata uang yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. 


Dengan demikian, mata uang itu wajib diberikan kepada pemiliknya, yaitu dengan cara membayar pajak. Jika warga masyarakat tidak mau membayar pajak, mereka melakukan kesalahan. Karena tidak mau mengembalikan kepada pemiliknya. Jika tidak mau membayar pajak, ya jangan menyimpan dan menggunakan mata uang itu. Jika dalam setiap mata uang ada gambar kaisar sebagai pemiliknya, dalam diri setiap manusia ada gambar siapa? Tuhan Yesus menyadarkan bahwa setiap manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah, gambar Allah. Maka dalam diri setiap manusia ada gambar Allah. Dengan demikian hidup manusia wajib dikembalikan kepada Allah, pemilik manusia. 


Ini berarti seluruh perilaku hidup manusia merupakan persembahan kepada Allah. Menjadi jelas bahwa dalam hidup setiap hari, selain ada kewajiban-kewajiban terhadap negara dan masyarakat yang wajib kita laksanakan. Tetapi juga hendaknya disadari bahwa manusia wajib mempersembahkan perilaku hidupnya kepada Allah sebagai pemilik atas hidup manusia. Tentu Allah menolak persembahan perilaku dosa. Sebagai murid-murid Kristus, kita diajak untuk melaksanakan apa yang wajib diberikan untuk negara dan masyarakat. Lebih dari itu, perilaku hidup kita sehari hari wajib kita persembahkan kepada Allah. Persembahan perilaku hidup kepada Allah bukan sebatas berdoa, tetapi juga kesediaan membantu orang lain, terutama yang hidupnya susah dan kekurangan;berkata-kata yang menggembirakan orang lain dan bukan yang menyakitkan; menghargai dan menghormati orang lain dengan berlaku jujur, ramah dan bersaudara kepada siapapun; menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang penuh kasih yang murah hati; dll. Mari keluarga kita selalu teguh dan setia dalam iman sehingga perilaku hidup kita sehari-hari merupakan persembahan kepada Allah. 


Berkat Allah menyertai kita


Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...