Oktober 28, 2021

Renungan Kamis , 28 oktober 2021

 Lukas 6:12-19 

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 

Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, 

Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 

Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. 

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.

Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.

Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan


Manusia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Mulai dari hal kecil sampai besar yang sangat penting dan menentukan dalam hidup. Untuk hal seperti ini kita tidak boleh memutuskan pilihan berdasarkan selera dan keinginan.


Dalam Injil hari ini dikisahkan bagaimana Yesus memilih para rasul-Nya. Pilihan Yesus tidak berdasar pada selera dan keinginan hati-Nya saja. Sebelum menjatuhkan pilihan itu Yesus terlebih dahulu menyepi dan berdoa untuk mencari kehendak Bapa, sehingga pilihan Yesus adalah pilihan Bapa. Apa yang diputuskan oleh Yesus berkenan di hati Bapa-Nya.


Fransiskus Assisi juga mengalami keraguan yang berat untuk menentukan pilihan hidupnya. Maka, dia pergi berdoa di depan Salib Tuhan dengan doa singkat: `Tuhan apa yang Engkau inginkan untuk aku perbuat`. Tuhan menjawab doa  Fransiskus, dan mulai saat itu Fransiskus memilih cara hidup sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita hidup sesuai dengan keinginan Tuhan atau seturut selera dan keinginan kita sendiri saja?


Apabila Anda kesulitan dalam memilih sesuatu yang paling menentukan dalam hidup, berdoalah maka pilihan itu akan tepat dan benar.

Oktober 27, 2021

Renungan Rabu, 27 Oktober 2021

 Lukas 13:22-30 


Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.

Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" 

Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 

Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.

Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.

Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.

Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.

Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."



Renungan


Sadarkah kita bahwa Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk menyebut dan mengakui bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, Roh Kudus yang sama, yang telah bersemayam dalam lubuk jiwa kita yang terdalam yang terus mendorong kita untuk berjumpa dengan Tuhan dalam doa-doa kita dan dalam keseharian kita. Saat kita terus terbuka akan kuasa Roh Kudus maka Ia sendiri yang akan memampukan kita untuk melibatkan Tuhan dalam seluruh gerak hidup kita setiap hari.


Roh Kudus sungguh mengenal kita begitu mendalam, Ia selalu ada untuk membawa kita kepada Tuhan, Dialah Sahabat jiwa kita. Dalam jatuh bangun dari segala kelemahan kita, Roh Kudus akan membimbing dan memampukan kita untuk tetap mengarahkan hati kepada Tuhan, sehingga dalam situasi sulit apa pun kita tidak mudah putus asa melainkan terus percaya dan berharap kepada Tuhan yang penuh kasih.


Sudahkah Anda menyerahkan diri setiap hari kepada bimbingan Roh Kudus? Mari kita memulainya hari ini! Cobalah, rasakanlah betapa lembutnya Roh Kudus dalam membimbing kita.


Oktober 26, 2021

Renungan Selasa, 26 Oktober 2021

 Lukas 13:18-21 


Maka kata Yesus: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?

Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."

Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?

Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."


Renungan

Pernahkah anda datang ke suatu tempat asing, tetapi merasa seperti telah lama mengenalnya dan Anda merasa nyaman berada ditempat tersebut? Mengenai surga  Teresa Avila berkata, kita tak akan merasa seperti pergi ke negara asing, tetapi seperti pergi ke kota kita, karena itu adalah kota tempat seseorang yang sangat kita kasihi dan yang mengasihi kita. Dapatkah anda membayangkannya betapa membahagiakannya tempat tersebut. Kita akan bertemu muka dengan muka dengan Allah yang mengasihi dan merindukan kita.

Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, sehingga apapun yang kita alami, segala penderitaan dan kesulitan adalah untuk memurnikan kita dan agar kita dapat bertekun. Persembahkanlah segala sesuatunya kepada Allah yang selalu menjadi kekuatan kita. Karena apa yang kita derita demi Kristus, tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakannya bagi kita. Inilah yang menjadi pengharapan kita saat di dunia ini.

Oktober 25, 2021

Renungan Senin, 25 Oktober 2021

 Lukas 13:10-17 


Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.  Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.

Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."

Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat."  

Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"

Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.


Renungan


Salah satu karya Yohanes dari Salib yang berjudul Madah Rohani, menceritakan tentang pengalaman suatu jiwa untuk sampai pada persatuan dengan Allah, khususnya Kristus yang merupakan Sang Mempelai jiwa. Menarik dalam sebuah stanza dikatakan, `Takkan kupetik bunga- bunga`. Ada 3 jenis bunga yang dimaksudkan, salah satunya yaitu keinginan daging (Hal-hal duniawi).

Untuk mencapai persatuan dengan Allah diperlukan kelepasan dari ikatan terhadap hal-hal duniawi yang sesungguhnya adalah kesia-siaan belaka. Lalu apakah harta, jabatan, tidak diperlukan? Banyak dikalangan kita bertanya demikian. Tentu semuanya itu perlu, seperti barang-barang duniawi yakni: HP, laptop, dan lain lain diperlukan untuk membantu kita dalam pekerjaan, sekolah, usaha, dan dalam aktivitas kita sehari-hari, namun yang perlu diingat bahwa semuanya itu hanyalah sarana bukan tujuan hidup kita. Kita memerlukan semuanya itu, tetapi tidak lekat atau terikat. Paulus juga mengingatkan kita hari ini bahwa, jika kita hidup menurut daging, kita akan mati. Dengan Roh Allah, kita akan berani melepaskan segala kesia-siaan dunia ini untuk memperoleh hidup yang kekal.

Oktober 22, 2021

Renungan Jumat, 22 September 2021

 Lukas 12:54-59 

Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."


Renungan

Dalam Injil hari ini, Tuhan mengajar kita untuk berdamai dengan musuh kita selama kita masih hidup di dunia ini dan tidak dihukum di dunia yang akan datang, `Jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah...pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara`.

Apa maksudnya `berdamai dengan musuh kita selama kita masih di tengah jalan`? Berarti tidak dendam terhadap sesama, mengampuni orang yang telah melukai hati kita, bahkan mencintai orang yang memusuhi dan menganiaya kita; menanggung kelemahan sesama kita. Hal ini perlu dilakukan selama kita masih ditengah jalan, yaitu sebelum kita tiba dihadapan Sang Hakim Yesus Kristus, maksudnya kita perlu berdamai dengan musuh kita selama kita masih hidup di dunia ini; kalau kita sudah mati dan sudah tiba dihadapan Sang Hakim, kita tidak punya kesempatan lagi untuk berdamai dengan musuh kita, akibatnya kita akan dilemparkan ke dalam penjara yaitu neraka.

Oleh karena itu, saudara-saudari yang terkasih, mari kita menanggapi sabda Tuhan, kita mau segera berdamai dengan musuh kita

Oktober 21, 2021

Renungan Kamis, 21 oktober 2021

Lukas 12:49-53

 

 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."



Renungan


Situasi dunia yang semakin berkembang sekarmenawarkan banyak hal yang menggiurkan. Kalau kita tidak berhati-hati dalam memilih kita bisa jatuh dalam kesalahan. Inilah yang dikatakan sebagai pilihan hidup.


Sebagai anak-anak Allah kita diharapkan tidak terbawa arus dunia yang salah, yang akan membawa kita jatuh dalam dosa yang akhirnya membawa kita pada maut. Karena kelemahan dan cacat cela kita, pada umumnya orang-orang jatuh ke dalam 7 dosa pokok (sombong, kikir, cabul, gelojoh, iri, marah, malas) yang menjauhkan kita dari Tuhan.


Tuhan Yesus selalu menawarkan keselamatan dan rahmat-Nya senantiasa tercurah bagi kita. Apakah tanggapan kita atas rahmat Tuhan itu? Kita yang telah dimenangkan dan dibebaskan Yesus dari dosa menjadi anak Allah dengan syarat kita mau hidup sesuai dengan firman-Nya dengan demikian kita akhirnya dijadikan kudus dan benar di hadapan-Nya. Saat kita hidup sesuai dengan firman Tuhan kita sudah mengalami hidup kekal sejak masih di dunia ini. Inilah prarasa surgawi yang Yesus berikan.


Tuhan Yesus, curahkanlah rahmat pengudus kepada kami, sehingga kami senantiasa hidup sesuai dengan firman-Mu dalam kehidupan sehari-hari.

Oktober 07, 2021

Renungan Kamis , 7 Oktober 2021

 Lukas 11:5-13 

Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."


Renungan

Perlu suatu keberanian untuk mengetuk pintu, meminta bantuan orang lain. Rasanya harga diri kita akan jatuh jika kita minta tolong pada sesama kita. Itulah kelemahan kita, manusia yang diliputi kesombongan, gengsi yang tinggi.

Hati-hati, bila kesombongan itu juga ada dalam diri kita di hadapan Allah. Merasa diri tidak layak, tidak pantas dihadapan-Nya. Kemudian kita justru perlahan menjauh dari-Nya, tidak lagi menjalin relasi dalam hidup doa. Menganggap bahwa Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan sampai kita masuk dalam kelompok orang yang dinubuatkan oleh Maleaki: yang tak lagi menganggap penting hubungan dengan Allah, tidak lagi perlu memohon rahmat dari pada-Nya . Sepatutnya kita meneladan  Maria yang menyadari kelemahannya, namun segera membuka diri akan kuasa Roh Kudus, sehingga terlaksana kehendak Allah dalam dirinya.

Mari kita mohon supaya Roh Kudus hadir memenuhi hati kita. Karena oleh Roh Kudus kita dimampukan menyebut Allah: ya Abba. Oleh Roh Kudus kita punya keberanian untuk mengetuk pintu kerahiman Allah, mengakui kerapuhan diri kita seraya mohon belaskasih-Nya atas kita.

Oktober 06, 2021

Renungan Rabu, 6 Oktober 2021

 Lukas 11:1-4 

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."  Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Renungan

Doa adalah suatu kewajiban bagi setiap orang beriman. Sebagai orang kristiani doa adalah nafas kehidupan kita. Tetapi kita juga mengakui dengan rendah hati bahwa ada saatnya kita belum tahu bagaimana harus berdoa dengan benar.

Hari ini kita diajak untuk memiliki hati sebagai murid yang mau datang kepada Yesus Sang Guru kita. Dengan doa Bapa kami, Tuhan Yesus menyatakan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita. Seorang Bapa sangat dekat dengan kita anak-anak-Nya. Sebuah doa yang benar harus mengarah kepada Tuhan untuk memuji dan memuliakan Tuhan kemudian baru kepada kebutuhan kita dan sesama.

Doa bapa kami ini sering kita lakukan setiap hari, tetapi terkadang kita tidak sadar apa yang kita ucapkan, saat kita sedang berdoa karena hati dan pikiran kita sedang mengembara. Berdoalah dengan penuh kesadaran. Berdoalah bersama Yesus sendiri, agar kita diajari untuk berbicara dengan Bapa yang mengasihi kita. Semoga melalui bacaan hari ini kita disadarkan pentingnya untuk berdoa dan agungnya doa Bapa kami yang sering kita ucapkan. Teruslah berdoa agar kita dapat melewati pencobaan yang meliputi kehidupan kita dan keluarga kita.

Oktober 05, 2021

Renungan Selasa, 5 Oktober 2021

 Lukas 10:38-42 


Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Renungan

Perkataan Marta di atas, lahir dari kesalahpa-hamannya yang beranggapan bahwa melayani selalu berhubungan dengan kerja fisik untuk menghasilkan sesuatu seperti yang dikerjakannya ketika Yesus datang mengujungi rumahnya. Kesalahpahaman tersebut membuat dia menganggap Maria tidak melakukan pelayanan terhadap Yesus karena hanya duduk dekat kaki-Nya sambil mendengarkan perkataan Yesus. Akibatnya, dia membujuk Yesus untuk menegur Maria dan mesti melakukan pelayanan yang berhubungan dengan kerja fisik seperti yang di laku-kannya.


Marta kurang memahami bahwa pelayanan selalu hadir dalam berbagai macam bentuk. Keanekaragaman pelayanan membuat kehidupan Gereja menjadi sangat kaya. Kekayaan tersebut mesti dipelihara dengan memberikan penghargaan terhadap pilihan orang untuk melayani dalam bentuk apa saja.

Melayani bukan hanya pekerjaan seorang hamba atau orang-orang bawahan. Setinggi apapun jabatan seseorang, melayani tetap menjadi panggilannya. Atas dasar itu, tidak ada alasan bagi seorang pengikut Kristus untuk membanggakan bentuk pelayanan diri atau kelompoknya. Kunci utamanya cinta dan ketulusan. Bukan untuk mencari pujian orang lain.

Oktober 04, 2021

Renungan Senin, 4 Oktober 2021

 Lukas 10:25-37 

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."  Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


Renungan


Kasih itu sabar: kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong . Kasih Allah telah diberikan dalam hati kita, namun kita lebih menyukai yang jahat daripada yang baik. Allah begitu sabar terhadap kita karena kita sangat bernilai bagi-Nya. Keangkuhan kita, segala dosa kita telah dihapus oleh-Nya dengan penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Dalam Injil hari ini, kita diingatkan kembali akan tujuan hidup kita yaitu mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati. Apa yang dilakukan orang Samaria yang baik hati itu? Merupakan contoh dan teladan bagi kita dalam hidup sehari-hari. Seperti kata Yesus,apa yang kamu lakukan untuk orang yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku.

Mencintai semua makhluk yang ada di muka bumi, dia melihat Allah hadir dimana-mana, bagaimana dengan kita? Apakah kita mampu mengasihi sesama kita? Khususnya orang yang telah menyakiti kita? Apakah kita melihat Allah yang hidup dalam diri sesama? Atau kita bukan melihat Allah dimana-mana, tetapi melihat setan dimana-mana bahkan juga melihat setan dalam diri sesama kita?

Oktober 01, 2021

Renungan Jumat, 1 Oktober 2021

 Matius 18:1-5 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Renungan

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, `Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil, dialah yang terbesar dalam kerajaan Allah.`

Saudara, ternyata untuk masuk kerajaan surga sebernanya simple yaitu cukup menjadi seperti anak kecil. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti kekanak-kanakan. Tetapi semangat seorang anak kecil! Seorang anak sangat bergantung penuh kepada orang tuanya. Semangat inilah yang perlu kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Memiliki kepercayaan yang penuh pada Tuhan. Apapun yang terjadi dalam hidup kita pasrahkan kepada Tuhan. Dia tidak mungkin mencelakakan kita.

Kita perlu belajar dari Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengenai semua ini. Kekudusannya dicapai dengan melakukan sabda Yesus ini; dia selalu mau dekat dengan Yesus dan memilih menempatkan dirinya sebagai anak kecil.

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...