Agustus 31, 2021

Renungan Selasa, 31 Agustus 2021

 Lukas 4:31-37 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.  Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.  Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. 


Renungan

Kita pasti pernah mengalami titik terendah dalam hidup kita, di mana kita merasa tidak berdaya lagi, sehingga mempertanyakan kuasa Tuhan dan tidak jarang ada orang memilih mengakhiri hidupnya atau ada juga yang mencari jalan pintas dengan pergi ke dukun.

Dalam Injil hari ini kita dapat melihat kuasa Yesus yang melampaui segala-galanya dan sanggup mengalahkan kuasa si setan. Pada umumnya orang yang kerasukan itu dalam keadaan tidak berdaya, namun Yesus sanggup menyelamatkannya, karena setan tahu siapa Yesus, yaitu yang Kudus dari Allah dan Yesus sanggup membinasakan mereka.


Jika saat ini, kita sedang menghadapi pergumulan hidup yang berat, sebenarnya saat itulah kuasa Yesus sanggup bekerja dalam hidup kita, serta menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian. Kita butuh pertolongan Tuhan. Hati-hati jangan sampai kita seperti orang banyak dalam bait Allah itu. Mereka hanya takjub akan kuasa Yesus tetapi kurang percaya.

Agustus 30, 2021

Renungan Senin, 30 Agustus 2021

 Lukas 4:16-30 

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"

Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"

Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 

Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.

Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 

Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. 


Renungan


Hari ini Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya kepada orang di tempat asal-Nya. Di Bait suci, Dia membaca kitab Yesaya yang diakhiri dengan kalimat, `Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya`. Dengan itu, Tuhan Yesus berbicara tentang tugas Sang Mesias yang diutus Allah bagi umat manusia. Dia mengungkapkan bahwa Dialah Mesias, yang datang untuk menyertai orang miskin, menopang, menghibur dan membebaskan orang yang tertindas dan dibelenggu dosa. Dia telah melaksanakan tugas-Nya dengan membawa sukacita dan damai bagi semua orang.

Kita masing masing mempunyai tugas sebagai pewarta sejak kita dibaptis. `Apakah kita telah melaksanakan tugas ini? Hidup dalam zaman modern ini, orang hanya tahu hidup bagi dirinya sendiri, tidak mengenal sesamanya. Manusia menjadi acuh dan tidak peduli terhadap sesama, mereka lupa akan tugasnya.

Yesus terus mengingatkan kita untuk rendah hati, saling melayani, mulai dari orang yang terdekat, dalam keluarga dan tempat kita tinggal. Melalui senyuman, sapaan, dan dukungan. Mari kita menjadi saksi bagi Kristus lewat hal-hal kecil dan sederhana.


Agustus 27, 2021

Renungan Jumat, 27 Agustus 2021

 Matius 25:1-13

"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."


Renungan

Pada suatu hari banyak orang sedang menunggu di lampu merah. Tiba-tiba ada satu truk besar dengan kecepatan tinggi langsung menabrak, dan banyak orang yang mati dan terluka. Semua yang menjadi korban itu tidak akan mengira kejadian naas itu menimpa mereka. Injil Tuhan mengingatkan kita untuk siap siaga akan kedatangan Tuhan Yesus dengan tiba-tiba, seperti mempelai yang datang pada waktu malam. Kita harus seperti gadis yang bijaksana selalu siap dengan pelita dan minyaknya juga.

Punya pelita belum cukup tapi bagaimana supaya pelita itu selalu menyala. Kita disebut sebagai orang Kristiani belum cukup, tetapi perlu hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Hidup kita masih belum sempurna. Maka kita perlu memelihara pelita hidup kita dengan minyak cinta kasih, pengharapan dan kepercayaan. Dengan senantisa berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.


Agustus 26, 2021

Renungan Kamis, 26 Agustus 2021

Matius 24:42-51

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."


Renungan

Mendengar kabar duka bahwa sepupu saya meninggal dunia karena sakit. Kematian adalah sebuah misteri, artinya tidak seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang. Semua orang pasti mengalaminya dan tidak ada yang lolos daripadanya. Seperti yang dialami sepupu saya, karena itu setiap orang harus bijaksana mengolah kehidupannya sebelum misteri kematian datang.

Setiap orang juga harus percaya dan menyakini bahwa hari kedatangan Tuhan masih merupakan misteri, yang tidak dapat diduga. Kita pun diajak untuk mempersiapakan kedatangan Tuhan dengan hati murni sambil tetap berjaga-jaga dengan iman yang teguh.

Mari kita membangun sikap sebagai hamba yang waspada, baik, taat dan tekun mengusahakan semua hal yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Tetaplah setia sampai akhir dan Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan. Semoga saat kita dipanggil Tuhan, didapati-Nya kita layak untuk masuk ke dalam perjamuan dan boleh ikut serta mengalami kebahagiaan abadi bersama-Nya di Surga.

Agustus 25, 2021

Renungan Rabu , 25 Agustus 2021

Matius 23:27-32

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Renungan

Kita semua tahu bagaimana proses makanan itu dicerna tubuh, sejak awal masuk ke dalam mulut sampai diproses menjadi sari-sari makanan yang berfungsi sebagai energi bagi tubuh kita. Demikianpun sabda Allah yang menjadi sumber makanan bagi jiwa kita.

Sabda itu tidak akan bekerja jika pada awalnya kita tidak menerima melalui pendengaran maupun penglihatan kita. Salah satu sarana yang dapat kita pakai untuk dapat merenungkan sabda Allah adalah melalui Lectio Divina atau bacaan ilahi. Semakin sering dan tekun kita menerima dan merenungkan Kitab Suci sebagai surat cinta Tuhan, semakin sabda itu berguna dan bekerja dalam hidup kita. Ia menuntun kita untuk semakin mengerti kehendak Tuhan dan melaksanakan kebenaran-kebenaran-Nya, serta sebagai pedoman dalam menjalani hidup kita. Bukan hanya itu, sabda itu juga mampu mengubah hidup kita menjadi baru dan lebih berarti.

Agustus 24, 2021

Renungan Selasa, 24 Agustus 2021

Yohanes 1:45-51 

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"  Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"  Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."


Renungan

Kisah Injil hari ini menarik bagi kita. Natanael atau kita sebut juga Bartolomeus memang meragukan apakah Yesus benar-benar berasal dari Nazaret atau bukan. Namun Tuhan Yesus memiliki cara untuk mengubah dia. Ia sabar dan memahami pergumulan Natanael. Ia berkata kepada Natanael, `Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia`.

Nathanael buta secara rohani tetapi bisa melihat kemuliaan Tuhan Yesus. Natanael adalah kita masing-masing. Kita juga memiliki perjalanan rohani yang unik. Banyak kali kita juga meragukan Tuhan, bertanya dengan aneka pertanyaan yang menunjukkan diri kita sebagai orang yang kecil dan lemah imannya. Kita adalah orang yang buta secara rohani! Kita butuh Tuhan supaya Ia bisa mengubah hidup kita yang selalu ragu menjadi benar-benar percaya kepada-Nya serta bersandar kepada kasih kerahiman Tuhan.


Agustus 23, 2021

Renungan Senin, 23 Agustus 2021

 Matius 23:13-22 

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.



Renungan


Celakalah kamu...! Perkataan keras yang diucapkan Yesus pada ahli-ahli Taurat dan orangorang Farisi. Yesus mengecam sekali orang-orang yang munafik ini, karena selain menghalangi dirinya sendiri untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, juga menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk datang kepada Tuhan dan memasuki Kerajaan Surga.


Terkadang, tanpa kita sadari kita juga berlaku seperti orang-orang Farisi. Bisa mengajarkan hal yang baik pada orang lain, namun tidak melakukannya sendiri, bisa menegur orang lain yang berbuat salah, namun masih melakukan kesalahan yang sama.


Kita masih sering mengutamakan penampilan luar. Berbuat baik hanya karena ingin dipuji, terlihat saleh dan santun di luar namun saat di rumah sering berlaku kasar pada keluarga. Dengan menjadi murid Yesus berarti kita harus melepaskan diri dari kemunafikan, dari segala kepurapuraan. Mengikuti Yesus dengan motivasi yang tulus, melakukan kebaikan yang bersumber dari hati bukan karena ingin terlihat baik di mata orang lain.


Agustus 20, 2021

Renungan Jumat, 20 Agustus 2021

 Rut 1:1-22 


Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.

Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.

Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 

Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.

Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. 

Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,

berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;

kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras

dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu." 

Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?

Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,

masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?" 

Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.

Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."

Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 

di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"

Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?"

Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.

Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." 

Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.



Renungan


Bacaan mengisahkan tentang Rut, seorang perempuan moab yang tadinya tidak mengenal Allah Israel, dan Naomi, mertuanya. Keduanya adalah janda. Saat kedua anak Naomi meninggal, ia mempersilahkan menantu-menantunya untuk pulang ke bangsanya. Tidak seperti iparnya, Rut memilih untuk tetap tinggal dan tetap setia pada mertua yang dicintainya, pada bangsa Israel yang telah menjadi bangsanya sendiri, dan kepada Allah Israel. Kehidupan dua orang janda ini tidak mudah, namun kesetiaan Rut berbuah manis.


Di kemudian hari, karena menuruti saran mertuanya, Rut akhirnya menikah dengan Boas, sanak keluarga mereka yang kaya raya. Tuhan memberkati keluarga itu, dan di masa yang akan datang, Rut dan Boas menjadi leluhur dari raja Daud, serta Yesus Kristus, Tuhan kita.


Berkat dan rahmat Tuhan senantiasa tercurah untuk mereka yang setia pada panggilannya, baik hidup berkeluarga atau pun hidup selibat. Meskipun jalan yang ditempuh terkadang tidak selalu mulus, namun Tuhan selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Beranikah kita untuk tetap setia?

Agustus 19, 2021

Renungan Kamis, 19 Agustus 2021

Matius 22:1-14 

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:  "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."


Renungan

Ada seorang kaya yang mengadakan perjamuan nikah bagi anaknya, banyak tamu yang hadir dan hampir semua berpakaian mewah dan membawa banyak hadiah. Seorang pengasuh mempelai pria ketika ia masih kecil, datang dengan pakaian yang amat sederhana dan memberikan sebuah kalung  bagi mempelai. Dengan berbisik ibu itu berkata, `Sejak ibu menerima undangan pernikahanmu dua minggu yang lalu setiap hari Ibu mendoakanmu agar kamu bahagia.` Mempelai pria tersebut sangat terharu mendengar perkataannya, baginya ini adalah hadiah yang teristimewa.


Kita semua dipanggil untuk menjadi tamu-tamu dalam perjamuan nikah di surga. Apakah kita juga sudah mempersiapkan hadiah yang terbaik bagi Tuan rumah yaitu Bapa. Bukan dengan kekayaan atau kebaikan kita karena segala hal yang baik berasal dari Tuhan. Dia hanya ingin kehendak bebas kita saja. Maukah kita mempersembahkan kehendak bebas kita agar Tuhan memakainya sesuai dengan kehendakNya? Bagi keselamatan jiwa-jiwa dan bagi orang lain? Apakah kita mau masuk dalam perjamuan nikah di surga bersama-Nya? Tuhan tidak meminta banyak hal. Mari kita persembahkanlah doa dan kurban-kurban kecil bagi keselamatan jiwa-jiwa demi kemuliaan Allah.

Agustus 18, 2021

Renungan Rabu, 18 Agustus 2021

 Matius 20:1-16 

 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."



Renungan


Seorang anak seringkali merasa iri hati dengan saudara atau temannya ketika ia mendapat sesuatu yang berbeda dari orang lain. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah dapat memahami keadaan yang ada, rasa iri hati perlahan diganti dengan rasa syukur atas apa yang ia miliki.


Setiap saat Yesus berkeliling untuk memanggil kita agar dapat bekerja diladang-Nya. Yesus mengajak kita untuk sadar bahwa panggilan yang Ia berikan kepada kita adalah pertama-tama ajakan dari Yesus, dan Ia juga menjanjikan upah yang pasti dan sama bagi kita yaitu kehidupan kekal. Yesus ingin memberikan upah yang sama bagi setiap orang yang mengikuti Dia, entah kita baru mengenal Dia atau sudah lama sebagai pewarta kasih-Nya. Kita dipanggil bukan menjadi 12 murid Yesus yang pertama, tapi kita patut bersyukur karena kita kelak boleh turut merasakan kehidupan seperti para rasul kekal asal kita setia.


Janganlah kita merasa iri hati dan ingin dihargai lebih oleh sesama karena kita telah jauh mengenal Yesus, tapi mari kita bersyukur karena Yesus memanggil kita untuk bekerja diladang-Nya. Mari kita bekerja dengan sukacita.


Agustus 16, 2021

Renungan Senin 16 Agustus 2021

 Matius 19:16-22 

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,  hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"  Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 



Renungan


Ketamakan merupakan dosa yang dapat menghambat seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga. Pemuda kaya yang dikisahkan dalam Injil hari ini mengingatkan kita kembali akan bahaya ketamakan dan kelekatan harta duniawi. Ia tidak rela melepaskan segala harta miliknya untuk memperoleh kehidupan yang kekal karena ia lebih mencintai harta kekayaannya daripada Kerajaan Surga.

Kelekatan kepada harta kekayaan membuat hati kita tidak bebas mengasihi Allah dan sesama. Orang yang tamak akan membutakan hatinya sehingga tidak peduli terhadap orang lain yang sangat membutuhkan, bahkan menghalalkan segala cara untuk menambahkan harta kekayaannya.


Oleh karena itu, Injil hari ini mengajar kita agar lebih mencintai harta abadi daripada harta duniawi dan belajar menggunakan segala anugerah Tuhan yang kita miliki sebagai sarana mencapai kesempurnaan hidup yang sejati, bukan menjadikan ia sebagai tujuan hidup. Kita diajak untuk melepaskan diri dari kelekatan harta benda, kedagingan dan kenikmatan hidup agar kita memperoleh kehidupan kekal.

Agustus 13, 2021

Renungan Jumat , 13 Agustus 2021

Matius 19:3-12 

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."


Renungan

Bacaan pada hari ini sungguh menarik, karena Tuhan menyatakan tentang kesetiaan-Nya dan tentang hukum perkawinan yang sengaja ditanyakan oleh orang-orang Farisi untuk mencobai Dia. Melalui ayat hari ini, Tuhan juga menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia 

Sejenak kita melihat kembali dalam hidup kita saat ini, apakah kita sudah melaksanakan seperti yang diajarkan oleh Yesus untuk setia? Apakah kita setia kepada pasangan kita, pilihan hidup dan tentunya setia pada Yesus di setiap peristiwa hidup kita? Ataukah kita masih bertegar hati dan egois dengan pemikiran kita sendiri dalam menjalin relasi dengan Tuhan dan sesama? Jika kita masih kurang setia, mari kita bersama mohon rahmat Tuhan, agar kita dapat setia, sama seperti Dia yang begitu setia mencintai kita tanpa syarat. Mari saat ini kita juga memberi cinta pada Tuhan dan sesama kita dengan cinta tanpa syarat pula

Agustus 12, 2021

Renungan Kamis, 12 Agustus 2021

Matius 18:21-35 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."


Renungan


Perbuatan ajaib Allah menyebabkan bangsa Israel dapat menyeberang sungai Yordan yang sedang meluap . Perbuatan ajaib terjadi karena bangsa Israel percaya pada Sabda Allah. Tanpa iman kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya, hal itu mustahil terjadi.


Perbuatan ajaib Allah dinyatakan dalam Injil hari ini melalui sebuah pengampunan. Mengapa? Mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali yang artinya tanpa batas itu sangat sulit atau mustahil bagi manusia. Para rasul pun menyadari sulitnya mengampuni sebanyak tujuh kali. Tapi hari ini kita diminta untuk mengampuni tanpa batas. Allah telah memberikan teladan, menghapuskan hutang 10.000 talenta (hutang yang tidak dapat dibayar manusia) melalui kematian Putera-Nya. Kerahiman Allah sangat sangat tidak terbatas.


Bagaimana sikap kita? Mari kita turut serta dalam perbuatan ajaib Allah dengan cara mengampuni sesama tanpa batas. Sesuatu yang sulit, bukan dalam arti tidak dapat dilakukan. Iman kepada Yesus menjadi kunci pengampunan kita, iman sebesar biji sesawi.

Agustus 10, 2021

Renungan Selasa , 10 Agustus 2021

Yohanes 12:24-26 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Renungan 

Cerita kemartiran yang unik dari Laurensius, ketika dia dalam penderitaannya dipanggang dia masih bisa bergurau dengan mengatakan bahwa di sebelah bawah sudah hangus dan dia minta dibalik. Kekuatan yang luar biasa didalam penderitaannya. Apa yang membuat Laurensius mempunyai kekuatan untuk tetap gembira di dalam penderitaannya? Karena kasihnya yang sangat besar kepada Tuhan yang diabdinya.

Kasih itu memberikan kekuatan dalam menanggung penderitaannya. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

Laurensius mengajarkan kepada kita untuk menghadapi masalah dan penderitaan dengan selalu mengingat bahwa penderitaan itu tidak kekal tapi dengan menjalani semua penderitaan dengan cinta kepada Tuhan maka kita akan dapat melewati masalah dan penderitaan itu dengan gembira.


Agustus 09, 2021

Renunga Senin, 9 Agustus 2021

 Matius 17:22-27 

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."


Renungan

Orang tua kerapkali memberikan perintah, larangan, dan nasihat untuk kebaikan anakanak mereka. Akan tetapi, anak-anak sering tidak dapat memahami maksud orang tua mereka. Mereka mungkin berpikir bahwa orang tua hanya bisa memberikan perintah, mengekang kebebasan dan terlalu mengontrol hidup mereka, tanpa menyadari bahwa semua itu demi kebaikan dan masa depan mereka.


Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!


Sebagai orang Kristen, kita juga mungkin kerap berpikir bahwa Tuhan memberikan terlalu banyak perintah dan larangan yang mengekang kebebasan dan kesenangan. Akan tetapi sama seperti yang dikatakan Musa kepada orang Israel, semua itu sesungguhnya untuk kebaikan kita, agar kelak memperoleh keselamatan kekal dan hidup bersama Allah dalam kerajaan surga.

Agustus 06, 2021

Renungan Jumat , 6 Agustus 2021

Markus 9:2-10 

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."



Renungan


Kemuliaan Tuhan untuk semua orang. Walaupun, hanya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang mendaki gunung Tabor bersama Tuhan Yesus, namun kemuliaan Tuhan boleh dialami semua orang. Kemuliaan Tuhan menjadi kerinduan dan kebutuhan semua orang.


Seorang Putra Manusia diberikan oleh Allah yang tampil sebagai seorang yang lanjut usia-Nya. Pada Putra Manusia terdapat kemuliaan dan kekuasaan yang kekal dan tidak dapat musnah. Kemuliaan dan kekuasaan yang di dalam Perjanjian Baru ada dalam Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang adalah Putra Allah dan Putra Manusia.


Ketika turun dari gunung Tabor, Tuhan Yesus tidak memperbolehkan siapa pun menceritakannya sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Kata-kata Yesus itu mengarahkan para murid kepada tradisi yang berkembang dalam masyarakat Yahudi tentang nabi Elia yang harus datang sebelum semua janji Allah tergenapi. Elia bahkan berhasil mempertobatkan bangsa Israel menuju kepada Allah. Tuhan Yesus mengakui peran penting Elia dalam pemulihan total Israel melalui jalan Pertobatan. Pertobatan adalah syarat mutlak untuk memperoleh kehidupan abadi.

Agustus 05, 2021

Renungan Kamis, 5 Agustus 2021

Matius 16:13-23 

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"  
Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.  Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.  Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Renungan

Sabda Yesus kepada Petrus ini keras sekali. Yesus menegur Petrus dengan keras karena Petrus mengubah rencana-Nya dan menghindari kematian dan penderitan-Nya di Yerusalem. Dalam penolakan Petrus terhadap salib ada penolakan unsur hakiki dalam hidup, karya dan penebusan Sang Putra.

Menolak salib berarti tidak menerima Kristus. Yesus sudah dikenal sebagai Yang tersalib, wafat dan bangkit, itulah jalan penyelamatan-Nya. Menolak salib berarti tidak ikut mati bersama Kristus untuk bangkit bersama Kristus, meninggalkan hidup lama dalam dosa, kemudian menemukan hidup bersama Kristus.

Petrus dengan lantang berjanji berani mengikuti Yesus dalam sengsara dan mati demi Yesus. Ia juga menjadi pembela Kristus, menyerang dengan pedang dan memotong telinga Malkus. Tetapi, bukan itu yang dikehendaki Yesus. Petrus hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, akhirnya ia mengingkari Yesus sampai tiga kali. Tindakan Petrus ini sungguh merupakan batu sandungan bagi Tuhan. Beryukur, pada akhirnya Petrus menemukan jalan kembali dengan penyesalan dan pasrah.

Agustus 04, 2021

Renungan, Rabu 4 Agustus 2021

Matius 15:21-28 


Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 

Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."

Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."

Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 

Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."

Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. 


Renungan

Tiga kata sederhana dari wanita Kanaan ini mampu melemahkan hati Yesus karena iman yang termuat di dalamnya.


Kita ingat juga tiga kata sederhana dari Maria ketika mereka mengalami kekurangan anggur dalam pesta pernikahan di Kana. Maria pergi kepada Yesus dan berkata `mereka kehabisan anggur`. Karena imannya yang besar yang membalut ke tiga kata itu maka Yesus merubah air menjadi anggur yang bermutu tinggi.


Petrus juga sama. Ketika ia berjalan di atas air pergi kepada Yesus dan ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, `Tuhan tolonglah aku`.


Tuhan tolonglah aku yang diungkapkan dalam iman mempunyai kuasa yang besar, bisa melemahkan hati Tuhan Yesus Kristus. Orang yang datang kepada Yesus dengan penuh iman, tak pernah kembali dengan tangan kosong. Yesus pasti melakukan sesuatu bagi orang itu. Ini mengajarkan kita bahwa bila kita ada kesulitan kita datang kepada Yesus dengan iman bukan kepada yang lan-lain.

Agustus 03, 2021

Renungan Selasa, 3 Agustus 2021

 Matius 14:22-36 


Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.  Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.  Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah.  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."  Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.  Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.


Renungan

Banyak hal yang membuat kita takut akhir-akhir ini, apa lagi menyangkut wabah Covid 19 yang juga belum berakhir. Dalam Injil hari ini Yesus meminta kita untuk tenang dan jangan takut, sebab Ia berjalan bersama kita dalam menghadapi persoalan dan badai hidup. Kita memang tidak dapat lagi mendengar suara-Nya secara langsung berkata demikian, tetapi Ia tetap hadir dan berbicara dengan kita, baik melalui sesama, alam ciptaan-Nya.

Memang saat ini sulit bagi kita untuk mengikuti ibadah secara langsung di gereja, tetapi kuasa-Nya melampaui batas ruang dan waktu, atau setidaknya masuklah ke dalam hati, karena Ia juga hadir di sana. Seperti Petrus yang datang menemui Yesus, mari kita datang menemui Yesus untuk mempersembahkan semua persoalan dan badai di dalam hidup kita, dan seluruh keberadaan kita kepada-Nya dan kita akan memperoleh kelegaan.

Agustus 02, 2021

Renungan Senin, 2 Agustus 2021

 Matius 14:13-21 

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. 


Renungan

Di tengah perjalanan di padang gurun menuju tanah terjanji, bangsa Israel mengeluh kepada Tuhan mengenai makanan. Mereka mengingat masa saat tinggal di Mesir dimana mereka dapat makan daging. Bangsa Israel lebih memilih untuk tinggal di Mesir asalkan makan daging dibandingkan berjalan bersama Tuhan dalam ketidakpastian di padang gurun.


Kita telah meninggalkan dosa melalui pembaptisan dan sakramen tobat. Tetapi di dalam perjalanan hidup rohani, kita seringkali digoda untuk menengok ke belakang, mengingat-ingat kembali kenyamanan duniawi yang pernah kita rasakan. Tentu setan tidak suka kita meninggalkan dosa, sehingga mulai menggoda dengan ingatan kita.

Godaan untuk kembali kepada kenikmatan-kenikmatan semu, harus secara tegas ditolak. Yesus bersabda `Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah` . Yohanes juga berkata bahwa ingatan kita, perlu dimurnikan dengan pengharapan. Maka di saat godaan itu muncul, tetaplah berharap kepada Allah yang akan memberikan kenikmatan surgawi yang sejati.

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...