November 19, 2021

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48 


Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, 

kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,

tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.


Renungan


Hari itu saya pergi ke gereja lebih awal dari biasanya, karena saya ingin melakukan doa hening terlebih dahulu. Namun, betapa sedihnya hati saya karena saat hening itu dibuyarkan oleh keributan dari mereka yang berbicara dengan suara keras di dalam gereja, bunyi dering telepon dari handphone dan suara para penjaja makanan di luar gereja.


Pengalaman tersebut di atas mendorong saya untuk merefleksikan kembali kehidupan saya, jangan-jangan saya pun termasuk yang membuat orang lain tidak nyaman untuk berdoa dalam ibadah, karena saya sibuk dengan handphone. Saya cenderung selalu menjawab setiap pesan yang masuk. Handphone telah mengalihkan perhatian saya dari Yesus yang hadir dalam persekutuan. Karena itu, patutlah saya memohon ampun kepada-Nya dan memohon rahmat pertobatan sejati agar saya dapat terlepas dari ikatan belenggu penyamun zaman ini, yaitu handphone.

November 18, 2021

Renungan kamis, 18 November 2021

 Lukas 19:41-44 


Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, 

kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan,

dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."


Renungan


Perikop hari ini menggambarkan Yesus yang menangisi Yerusalem, kota suci dan tempat Bait Allah berada.


Bangsa Yahudi percaya bahwa di sanalah Allah hadir. Akan tetapi, pola hidup tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka juga buta, tidak dapat melihat kehadiran Yesus yang membawa damai di bumi. Mereka begitu sibuk mengurusi hal-hal duniawi, perpuluhan, dan adat istiadat nenek moyang. Mereka juga mengecam sesamanya yang hidup tidak sesuai dengan peraturan yang mereka percayai.


Yesus menangisi kedegilan hati mereka yang menolak bahkan menyalibkan Sang Damai itu sendiri, mereka menolak `Mesias` yang telah datang ke dunia.

Saudara, menurut Anda, bagaimana perasaan Yesus ketika kita sibuk dengan masalah dan pekerjaan tanpa menyertakan Dia? Sadarilah bahwa kita adalah tempat kediaman Allah, di mana Dia dapat tinggal dan berkarya secara bebas dalam seluruh kehidupan kita. Mari kita buka mata hati kita. Biarkanlah Yesus memasuki lubuk jiwa kita. Dia yang selalu merindukan untuk memberikan damai dan kasih-Nya dan membiarkan diri kita dikasihi.


November 17, 2021

Renungan Rabu, 17 November 2021

 


Lukas 19:11-28 


Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.

Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.

Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.

Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.

Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.

Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.

Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.

Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.

Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.

Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.

Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.

Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.

Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.

Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.

Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku."

Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 



Renungan


Pada hari ini, Tuhan memberikan perumpamaan tentang uang mina kepada murid-murid-Nya dan kepada kita semua. Apakah uang mina itu? Tidak lain adalah Kerajaan Allah itu sendiri. Kerajaan Allah ada dalam diri Yesus. Sangat disayangkan, banyak orang tidak melihat hal itu bahkan para murid-Nya juga. Lebih menyedihkan lagi, Yesus ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.


Demikian juga kita saat ini, kita kurang menyadari bahwa Kerajaan Allah ada di dunia ini, yaitu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan telah mengungkapkannya dengan berbagai cara, lewat alam, peristiwa, bahkan orang-orang di sekitar kita. Manusia cenderung menutup dirinya dan bahkan menolak Yesus dalam hidupnya.


Maka pada saat ini, mengingat situasi dunia yang memprihatinkan karena pandemi Covid-19, tidak ada kata terlambat untuk menerima Kerajaan Allah yang ada dalam diri Yesus dan mewartakan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

November 16, 2021

Renungan Selasa. 16 November 2021

Lukas 19:1-10 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.  Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.  Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."


Renungan


Dosa merusak relasi antara Tuhan dan manusia. Kedatangan Yesus ke dunia hendak membebaskan manusia dari penderitaan akibat dosa sehingga manusia menjadi berkenan di hadirat Bapa. Yesus sangat membenci dosa, namun sangat mencintai para pendosa. Sebesar dan sebanyak apapun dosa yang dibuat manusia tidak akan mampu melunturkan cinta Tuhan yang tanpa syarat kepada semua manusia tak terkecuali.

Zakheus merasakan cinta Tuhan yang tanpa syarat. Dia mengalami sukacita bukan hanya karena Yesus berkenan menumpang di rumahnya, melainkan karena terjadi keselamatan bagi Zakheus karena ia membuka diri untuk bertobat secara serius. Sukacita yang dialami Zakheus ternyata menjadi bahan bersungut-sungut bagi orang di sekitarnya, karena mereka berpikir bahwa keberdosaan Zakheus menjadi alasan bagi Yesus untuk tidak mengunjungi rumahnya. Sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berbuat dosa, kiita tidak berhak menghakimi sesama. Tuhan Maharahim dan senantiasa mengampuni dosa. Ia selalu menunggu anak-anak-Nya pulang. Pulang kepada Tuhan berarti menyesali dosa-dosa, bertobat, dan berbenah diri sehingga kehidupan dipenuhi oleh sukacita.

November 15, 2021

Renungan Senin, 15 November 2021

 Lukas 18:35-43 


Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. 

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" 

Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." 

Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"

Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" 

Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"

Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.


Renungan


Tidak ada manusia yang akan hidup untuk selamanya, semua pasti akan sampai ke titik akhir, yakni kematian. Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa realitas kematian merupakan sebuah realitas yang cukup menakutkan bagi banyak orang. Pertanyaannya adalah, apakah kita harus takut dengan kematian?


Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dapat menjawab pertanyaan ini, jika kita hidup bagi Tuhan, maka kematian tidak akan menakutkan. Apalagi bagi seorang Kristen, karena hidup tidak berakhir namun diubah. Manusia diciptakan untuk Allah dan dia akan kembali kepada Allah. Yohanes dari Salib mengatakan bahwa, pada senja akhir hidup kita akan diadili berdasarkan cinta kasih.

Inilah iman Kristiani yang harus kita miliki, bahwa hidup yang kita miliki di dunia ini hanyalah sementara, oleh karena itu kita harus senantiasa hidup dalam kasih, baik kasih kepada Allah dan kepada manusia. Hidup dalam kasih tidak lain hidup dalam Tuhan, dimana hidup kita sungguh menjadi milik Tuhan. Maka saat kita mati pun, kita tidak akan takut, karena dalam kasih tidak ada ketakutan.

November 12, 2021

Renungan Jumat, 12 Novembet 2021

 Lukas 17:26-37 

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."


Renungan

Pada zaman modern ini, kita seringkali mendengar perkataan ini: `Apakah Allah itu ada?` atau `Benarkah ada kehidupan kekal?`

Walaupun manusia melupakan atau bahkan menolak Allah, namun Allah tidak pernah berhenti memanggil setiap manusia untuk kembali kepada-Nya. Karena itu kehidupan yang dipenuhi oleh kehadiran Allah itu membahagiakan. `Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira` .

Bukankah manusia diciptakan untuk persatuan dengan Allah?  Agustinus berkata, `Kalau saya akan menggantungkan diri kepada-Mu dengan seluruh kepribadianku, maka tidak akan ada lagi kesedihan dan kesusahan yang meresahkan aku, dan kehidupanku yang seluruhnya dipenuhi oleh Engkau barulah menjadi kehidupan yang sebenarnya.`

Kita diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil kepada-Nya, maka kita akan mencari jalan-jalan-Nya melalui alam ciptaan-Nya, dunia, sesama dan diri sendiri. Sayang sekali bilamana kita tidak juga menyadari kehadiran-Nya melalui karya cinta-Nya. Ketika kita mengalami kehadiran-Nya yang penuh kasih dan juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita sudah mengalami kehidupan kekal itu sejak di dunia ini.

November 11, 2021

Renungan kamis , 11 November 2021

 Lukas 17:20-25 

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.


Renungan


Menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Mengapa? Ketika kita memutuskan untuk mengimani Kristus berarti kita harus dengan segenap hati mengikuti apa yang telah diteladankan-Nya kepada kita. `Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku` . Kita dituntut untuk berani menerima setiap penderitaan seperti Yesus yang telah menderita bagi kita.

Selagi kita masih hidup di dunia, kita pasti akan mengalami suka dan duka. Kita tidak mungkin melarikan diri atau menolak salib itu. Namun, percayalah, penderitaan yang kita alami itu takkan pernah melebihi kekuatan kita. Ketika Anda ditolak, ingatlah Yesus pun pernah ditolak.


Jadi, sama seperti Yesus yang tidak menghindari penderitaan `bahkan sampai wafat di salib ` demi cinta-Nya kepada manusia, maka kita pun dikuatkanNya untuk berani dan setia menanggung setiap salibsalib kecil setiap hari. Hadapilah salib bersama Yesus melalui penyerahan diri yang total. Cintailah salib karena salib adalah tanda kemenangan atas maut! Salib adalah bukti cinta Allah. Ingatlah juga bahwa dalam peristiwa salib, akan ada kebangkitan. Tuhan mengasihimu

November 10, 2021

Renungan Rabu, 10 November 2021

 Lukas 17:11-19 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"  Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.   Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.  Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Renungan

Injil memperlihatkan iman yang menyembuhkan dari sepuluh orang kusta. Mereka telah mendengar pelayanan-pelayanan Yesus misalnya Ia telah menyembuhkan wanita yang sakit pendarahan , memperbanyak 5 roti dan 2 ikan untuk 5000 orang, dan membangkitkan Lazarus dari kematian. Di samping itu Yesus juga selalu berdoa dan bersyukur kepada Bapa-Nya. Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, karena Engkau telah mendengarkan Aku . Juga sebelum Ia memperbanyak roti dan ikan;

Sayangnya kesembilan orang kusta lainnya yang telah disembuhkan Yesus tidak berterimakasih. Ketika Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, Yesus tidak penah menuntut mereka untuk bersyukur, tapi Yesus sangat tersentuh hatiNya pada seorang Samaria yang telah disembuhkan ini.

Sebagai refleksi, apakah saya meneladani sikap Yesus yang bersyukur sebelum dan sesudah melakukan pelayanan? Dan ketika saya mengalami penyembuhan atau hidup saya dipulihkan-Nya, apakah saya bersyukur kepada Yesus? Apakah saya mau dan telah menceritakan berita penyembuhan dan keselamatan dari Yesus kepada orang lain?

November 09, 2021

Renungan Selasa, 9 November 2021

 Yohanes 2:13-22 


Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. 

Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.

Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.

Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."

Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."  

Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." 

Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. 

Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. 

Renungan

Allah adalah pusat perhatian seluruh umat. Ia adalah Perlindungan dan Benteng Perkasa. Maka semua orang perlu membangun relasi dan memusatkan perhatian kepada Allah. Di dalam Allah rahmat dan kesuburan akan mengalir ke seluruh penjuru kehidupan manusia. Yesus juga menekankan betapa pentingnya membangun relasi dengan Allah. Untuk itu, sarana-sarana sebagai tempat bertemu dengan Allah harus dijaga, dipelihara dan jangan disalahgunakan.


Kita diajak mawas diri. Betulkah gereja kita merupakan rumah doa; tempat membangun relasi dengan Tuhan? Gereja sebagai gedung belum menjadi yang terpenting sebab yang pokok adalah Gereja sebagai umat Allah. Gereja yang sebenarnya tidak hanya dibangun dari batu atau kayu mati melainkan dari batu yang hidup. Oleh karena itu, gedung-gedung batu ini harus melambangkan bangunan rohani yang disusun dengan batu-batu hidup yaitu jemaat. Umat Allah sebagai Gereja perlu menyadari diri sebagai kediaman Allah dan tempat membangun relasi dengan-Nya.

November 08, 2021

Renungan Senin, 8 November 2021

 Lukas 17:1-6 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"  Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Renungan

Sekarang ini kita sering mendengar banyak penyesatan-penyesatan yang sering disebut hoax, baik di media sosail maupun lingkungan hidup kita. Begitu banyak kabar bohong yang beredar sehingga membuat kita tidak menyadari bahwa kita pun cenderung menjadi korban dan sekaligus penyebar dari penyesatan yang ada.


Ternyata, sejak dari zaman Tuhan Yesus hingga sekarang, penyesatan itu tidak pernah berakhir. Yesus juga mengatakan bahwa tidak mungkin tidak ada penyesatan. Yesus mau mengajak kita untuk lebih mengenal kebenaran yang ada sehingga kita tidak termasuk dalam bilangan penyesat yang akan mendapat celaka.

Hendaklah setiap perkataan, pikiran dan perbuatan kita diarahkan pada kebenaran Injili bukan menurut diri kita sendiri. Kita butuh iman sebesar biji sesawi yang mampu untuk menyingkirkan segala kesesatan yang ada di sekitar kita. Kita membutuhkan kacamata iman agar kita dapat berpegang pada kebenaran ilahi dan tidak terbawa arus penyesatan bagi sesama. Melalui firman Tuhan, kita dapat memperoleh segala kebenaran yang ada. Mari kita semakin mengenal Dia, Sang kebenaran sejati.

November 05, 2021

Renungan Jumat, 5 November 2021

 Lukas 16:1-8 

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.


Renungan

Dalam hidupnya Rasul Paulus telah mewartakan kasih Allah kepada bangsa-bangsa, bahkan kepada mereka yang sama sekali belum mengenal Kristus. Melalui kesaksian hidup Rasul Paulus, kita semua diingatkan bahwa kita juga yang telah diangkat menjadi anak Allah dan dipanggil dalam tugas yang sama, yaitu mewartakan kabar sukacita Injil kepada sesama kita, terkhusus kepada saudara/i kita yang sama sekali belum mengenal Kristus.

Pewartaan injil dapat kita lakukan melalui kesaksian hidup kita sehari-hari dan juga melalui doa-doa, serta kurban-kurban kecil yang kita persembahkan kepada Tuhan. Dengan demikian kita telah ikut serta dalam karya penyelamatan Allah. Kita pun berharap, `Mereka yang belum pernah menerima berita tentang Dia akan melihat Dia, mereka yang tidak pernah mendengarnya, akan mengerti karena kita adalah pancaran wajah Allah. Mari kita bersama-sama memohon kuasa Roh Kudus agar kita menjadi saksi yang setia dan berani dalam mewartakan kasih Allah di dunia yang penuh tantangan ini.


November 04, 2021

Renungan Kamis, 4 November 2021

 Lukas 15:1-10 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.""Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."


Renungan

Tuhanlah yang memiliki inisiatif untuk menciptakan manusia seturut dengan gambar-Nya (Kej 1 : 27), serta memberikan hidup kepadanya, karena manusia sangat berharga di hadapanNya. Oleh karena itu, tidak ada orang yang mempunyai hak untuk menghakimi dan menghina manusia, serta mengakhiri hidupnya sendiri maupun hidup sesamanya. Tindakan tersebut merupakan hinaan kepada Tuhan yang memberi kehidupan. Dan ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu di hadapan Tuhan. Hidup kita adalah milik Tuhan, maka kita perlu menghargai hidup kita sendiri dan hidup sesama kita.

Sebagai milik Tuhan, kita perlu saling membantu satu dengan yang lain; menolong yang kesusahan, menghibur yang berduka, mencari yang hilang, dsb. Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri (Rm. 14 : 7).

November 03, 2021

Renungan Rabu, 3 November 2021

Lukas 14:25-33 

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.


Renungan

Ketika Yesus mengucapkan perkataan itu, Ia sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ia menyadari bahwa Ia sedang berjalan menuju salib.

Setiap orang Kristen harus siap dan setia memikul salib. Apakah yang dimaksud dengan memikul salib itu? Memikul salib berarti bersedia untuk menyangkal diri sendiri. Tentunya tidak mudah, karena kehendak dan keinginan kita biasanya berlawanan dengan kehendak Tuhan. Bukankah kehendak kita lebih cenderung menyenangkan kedagingan kita?

Yesus berkata `Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku` ( Mat 16:24). Menyangkal diri artinya mengatakan `tidak` dan berusaha melawan keinginan, nafsu, dorongan kedagingan dan memberikan diri kita untuk taat kepada firman Allah.

Memikul salib berarti rela menderita karena kebenaran. Kita mau menanggung kesulitan, tantangan dan pencobaan dalam iman, harapan dan kasih kepada-Nya. Percayalah Yesus ada bersama kita dan membantu memikul salib kehidupan kita.

Yesus, berikanlah kami rahmat agar kami tetap setia memikul salib kami dalam segala situasi.

November 02, 2021

Renungan Selasa, 2 November 2021

 Yohanes 6:37-40 


 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.

Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Renungan


Secara kodrati, biasanya manusia mengalami ketakutan ketika menghadapi penderitaan atau kematian. Namun, karena manusia memiliki iman, harapan, dan kasih kepada Tuhan, dapat berharap dan percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal di surga.


Tuhan Yesus telah berjanji bahwa Ia akan membangkitkan semua orang yang diberikan Bapa kepada-Nya, yaitu mereka yang datang dan percaya kepada-Nya . Betapa bahagianya kita karena percaya bahwa saudara/i kita yang telah tiada akan berbahagia bersama Bapa di surga. `Semua penderitaan sudah berakhir,` berganti dengan kehidupan baru dan kekal.


Di bawah naungan Tuhan kehidupan berlangsung dalam damai dan tanpa ketakutan, karena Tuhan, Sang Penghibur bagi orang yang hidup dan yang mati. Hidup, yang dikenakan sesudah kematian di dunia ini, `hidup baru,` lebih tinggi, lebih mulia, tak terbayangkan: kepenuhan segala menjadi satu, tepat dan benar demikian! Demikianlah harapan kita bagi saudara-saudari yang kita doakan bahwa mereka akan memperoleh semuanya itu,


November 01, 2021

Renungan Senin 1 November 2021

 


Matius 5:1-12 


Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."



Renungan


Kita diajak untuk merenungkan `Sabda Bahagia`, antara lain: `Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah` (Mat 5:8). Dalam Perjanjian Lama tidak mungkin orang melihat Allah dan tetap hidup, `Tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup` (Kel 33:20). Tetapi kata Yesus dalam Sabda Bahagia ini, `Orang yang suci hatinya akan melihat Allah`. Orang yang suci hatinya adalah orang yang tidak mendua. Hatinya utuh murni mencari Allah saja. `Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu` (Mat 6: 22).


Dalam pengajarannya  Yohanes Salib, seorang pujangga Gereja, hidup pada abad ke-XVI kerapkali mengulangi bahwa kita harus menemukan Allah melalui jalan `nada, nada, nada`, atau kosong. Jika kita mendapatkan kepuasan dari sesuatu, betapapun sucinya, kita harus melepaskan itu. Dengan jalan `nada, nada, nada` kita pasti akan menemukan Allah, di mana akan kita jumpai kebaikan, damai, sukacita, kebahagiaan, kesenangan, kebijaksanaan, keadilan, kekuatan, cinta kasih dan kesalehan.

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...