November 19, 2021

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48 


Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, 

kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,

tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.


Renungan


Hari itu saya pergi ke gereja lebih awal dari biasanya, karena saya ingin melakukan doa hening terlebih dahulu. Namun, betapa sedihnya hati saya karena saat hening itu dibuyarkan oleh keributan dari mereka yang berbicara dengan suara keras di dalam gereja, bunyi dering telepon dari handphone dan suara para penjaja makanan di luar gereja.


Pengalaman tersebut di atas mendorong saya untuk merefleksikan kembali kehidupan saya, jangan-jangan saya pun termasuk yang membuat orang lain tidak nyaman untuk berdoa dalam ibadah, karena saya sibuk dengan handphone. Saya cenderung selalu menjawab setiap pesan yang masuk. Handphone telah mengalihkan perhatian saya dari Yesus yang hadir dalam persekutuan. Karena itu, patutlah saya memohon ampun kepada-Nya dan memohon rahmat pertobatan sejati agar saya dapat terlepas dari ikatan belenggu penyamun zaman ini, yaitu handphone.

November 18, 2021

Renungan kamis, 18 November 2021

 Lukas 19:41-44 


Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, 

kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan,

dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."


Renungan


Perikop hari ini menggambarkan Yesus yang menangisi Yerusalem, kota suci dan tempat Bait Allah berada.


Bangsa Yahudi percaya bahwa di sanalah Allah hadir. Akan tetapi, pola hidup tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka juga buta, tidak dapat melihat kehadiran Yesus yang membawa damai di bumi. Mereka begitu sibuk mengurusi hal-hal duniawi, perpuluhan, dan adat istiadat nenek moyang. Mereka juga mengecam sesamanya yang hidup tidak sesuai dengan peraturan yang mereka percayai.


Yesus menangisi kedegilan hati mereka yang menolak bahkan menyalibkan Sang Damai itu sendiri, mereka menolak `Mesias` yang telah datang ke dunia.

Saudara, menurut Anda, bagaimana perasaan Yesus ketika kita sibuk dengan masalah dan pekerjaan tanpa menyertakan Dia? Sadarilah bahwa kita adalah tempat kediaman Allah, di mana Dia dapat tinggal dan berkarya secara bebas dalam seluruh kehidupan kita. Mari kita buka mata hati kita. Biarkanlah Yesus memasuki lubuk jiwa kita. Dia yang selalu merindukan untuk memberikan damai dan kasih-Nya dan membiarkan diri kita dikasihi.


November 17, 2021

Renungan Rabu, 17 November 2021

 


Lukas 19:11-28 


Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.

Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.

Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.

Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.

Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.

Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.

Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.

Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.

Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.

Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.

Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.

Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.

Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.

Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.

Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku."

Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 



Renungan


Pada hari ini, Tuhan memberikan perumpamaan tentang uang mina kepada murid-murid-Nya dan kepada kita semua. Apakah uang mina itu? Tidak lain adalah Kerajaan Allah itu sendiri. Kerajaan Allah ada dalam diri Yesus. Sangat disayangkan, banyak orang tidak melihat hal itu bahkan para murid-Nya juga. Lebih menyedihkan lagi, Yesus ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.


Demikian juga kita saat ini, kita kurang menyadari bahwa Kerajaan Allah ada di dunia ini, yaitu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan telah mengungkapkannya dengan berbagai cara, lewat alam, peristiwa, bahkan orang-orang di sekitar kita. Manusia cenderung menutup dirinya dan bahkan menolak Yesus dalam hidupnya.


Maka pada saat ini, mengingat situasi dunia yang memprihatinkan karena pandemi Covid-19, tidak ada kata terlambat untuk menerima Kerajaan Allah yang ada dalam diri Yesus dan mewartakan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

November 16, 2021

Renungan Selasa. 16 November 2021

Lukas 19:1-10 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.  Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.  Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."


Renungan


Dosa merusak relasi antara Tuhan dan manusia. Kedatangan Yesus ke dunia hendak membebaskan manusia dari penderitaan akibat dosa sehingga manusia menjadi berkenan di hadirat Bapa. Yesus sangat membenci dosa, namun sangat mencintai para pendosa. Sebesar dan sebanyak apapun dosa yang dibuat manusia tidak akan mampu melunturkan cinta Tuhan yang tanpa syarat kepada semua manusia tak terkecuali.

Zakheus merasakan cinta Tuhan yang tanpa syarat. Dia mengalami sukacita bukan hanya karena Yesus berkenan menumpang di rumahnya, melainkan karena terjadi keselamatan bagi Zakheus karena ia membuka diri untuk bertobat secara serius. Sukacita yang dialami Zakheus ternyata menjadi bahan bersungut-sungut bagi orang di sekitarnya, karena mereka berpikir bahwa keberdosaan Zakheus menjadi alasan bagi Yesus untuk tidak mengunjungi rumahnya. Sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berbuat dosa, kiita tidak berhak menghakimi sesama. Tuhan Maharahim dan senantiasa mengampuni dosa. Ia selalu menunggu anak-anak-Nya pulang. Pulang kepada Tuhan berarti menyesali dosa-dosa, bertobat, dan berbenah diri sehingga kehidupan dipenuhi oleh sukacita.

November 15, 2021

Renungan Senin, 15 November 2021

 Lukas 18:35-43 


Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. 

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" 

Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." 

Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"

Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" 

Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"

Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.


Renungan


Tidak ada manusia yang akan hidup untuk selamanya, semua pasti akan sampai ke titik akhir, yakni kematian. Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa realitas kematian merupakan sebuah realitas yang cukup menakutkan bagi banyak orang. Pertanyaannya adalah, apakah kita harus takut dengan kematian?


Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dapat menjawab pertanyaan ini, jika kita hidup bagi Tuhan, maka kematian tidak akan menakutkan. Apalagi bagi seorang Kristen, karena hidup tidak berakhir namun diubah. Manusia diciptakan untuk Allah dan dia akan kembali kepada Allah. Yohanes dari Salib mengatakan bahwa, pada senja akhir hidup kita akan diadili berdasarkan cinta kasih.

Inilah iman Kristiani yang harus kita miliki, bahwa hidup yang kita miliki di dunia ini hanyalah sementara, oleh karena itu kita harus senantiasa hidup dalam kasih, baik kasih kepada Allah dan kepada manusia. Hidup dalam kasih tidak lain hidup dalam Tuhan, dimana hidup kita sungguh menjadi milik Tuhan. Maka saat kita mati pun, kita tidak akan takut, karena dalam kasih tidak ada ketakutan.

November 12, 2021

Renungan Jumat, 12 Novembet 2021

 Lukas 17:26-37 

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."


Renungan

Pada zaman modern ini, kita seringkali mendengar perkataan ini: `Apakah Allah itu ada?` atau `Benarkah ada kehidupan kekal?`

Walaupun manusia melupakan atau bahkan menolak Allah, namun Allah tidak pernah berhenti memanggil setiap manusia untuk kembali kepada-Nya. Karena itu kehidupan yang dipenuhi oleh kehadiran Allah itu membahagiakan. `Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira` .

Bukankah manusia diciptakan untuk persatuan dengan Allah?  Agustinus berkata, `Kalau saya akan menggantungkan diri kepada-Mu dengan seluruh kepribadianku, maka tidak akan ada lagi kesedihan dan kesusahan yang meresahkan aku, dan kehidupanku yang seluruhnya dipenuhi oleh Engkau barulah menjadi kehidupan yang sebenarnya.`

Kita diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil kepada-Nya, maka kita akan mencari jalan-jalan-Nya melalui alam ciptaan-Nya, dunia, sesama dan diri sendiri. Sayang sekali bilamana kita tidak juga menyadari kehadiran-Nya melalui karya cinta-Nya. Ketika kita mengalami kehadiran-Nya yang penuh kasih dan juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita sudah mengalami kehidupan kekal itu sejak di dunia ini.

November 11, 2021

Renungan kamis , 11 November 2021

 Lukas 17:20-25 

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.


Renungan


Menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Mengapa? Ketika kita memutuskan untuk mengimani Kristus berarti kita harus dengan segenap hati mengikuti apa yang telah diteladankan-Nya kepada kita. `Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku` . Kita dituntut untuk berani menerima setiap penderitaan seperti Yesus yang telah menderita bagi kita.

Selagi kita masih hidup di dunia, kita pasti akan mengalami suka dan duka. Kita tidak mungkin melarikan diri atau menolak salib itu. Namun, percayalah, penderitaan yang kita alami itu takkan pernah melebihi kekuatan kita. Ketika Anda ditolak, ingatlah Yesus pun pernah ditolak.


Jadi, sama seperti Yesus yang tidak menghindari penderitaan `bahkan sampai wafat di salib ` demi cinta-Nya kepada manusia, maka kita pun dikuatkanNya untuk berani dan setia menanggung setiap salibsalib kecil setiap hari. Hadapilah salib bersama Yesus melalui penyerahan diri yang total. Cintailah salib karena salib adalah tanda kemenangan atas maut! Salib adalah bukti cinta Allah. Ingatlah juga bahwa dalam peristiwa salib, akan ada kebangkitan. Tuhan mengasihimu

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...