September 30, 2021

Renungan Kamis, 30 September 2021

 Lukas 10:1-12 

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.  Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah:Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."


Renungan


Dalam pengajaran-Nya, kerapkali Yesus meng-gunakan perumpamaan supaya pendengar-Nya mampu untuk memahami setiap pengajaran yang disampaikan-Nya.

Hari ini Yesus mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk memberitakan Kabar Sukacita. Sebelum melakukan perjalanan ini Yesus menjelaskan kepada mereka apa saja yang harus mereka lakukan dan akan alami dalam perjalanan mereka. `Pergilah` artinya mereka pergi mewartakan Kabar Sukacita ini dalam kuasa dan bimbingan Allah. Selanjutnya Yesus berkata, `Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala`.

Serigala itu adalah binatang buas dan sangat mengerikan, sedangkan anak domba adalah binatang sangat lemah. Ketika anak domba beserta kawanannya berada bersama gembala, maka anak domba itu akan aman sekalipun dikepung oleh banyaknya serigala yang ganas.

Karena itu sebagai anak domba janganlah kita berlari menjauh dari Sang Gembala, Yesus Kristus. Ketika kita menjauh daripada-Nya, maka kita akan tersesat. Sebaliknya, ketika kita berada dekat-Nya maka kita akan aman dalam lindunga-Nya dan bimbingan-Nya.

September 29, 2021

Renungan Rabu, 29 September 2021

 Yohanes 1:47-51

Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"  Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." 


Renungan


Allah memandang kita sebelum kita mencari Dia. Segala sesuatu kita kerjakan kapan dan di mana saja diketahui-Nya. Meskipun iman Nathanael belum sempurna dalam agamanya yang lama, tetapi dengan hati yang tulus (benar) dan kerinduan akan kebenaran, maka Yesus memanggilnya untuk menjadi murid-Nya. Namun demikian, cara Yesus memanggil Nathanael tidak secara langsung tetapi melalui perantaraan Filipus.

Panggilan menjadi umat Kristiani atau pun panggilan hidup membiara, terkadang terjadi secara langsung melalui kerinduan hati yang terdalam. Namun ada kalanya panggilan tersebut memerlukan figur tertentu . Seperti Filipus ketika berjumpa dengan Yesus, dia memperkenalkan Yesus kepada Nathanael dan kemudian menghantarnya untuk bertemu kepada Yesus.

Demikian juga, dengan 3 tugas yang diberikan saat kita dibaptis (nabi, imam dan raja), sebagai orang beriman, kita juga diutus untuk mewartakan Injil melalui kesaksian hidup kita. Oleh karena itu, perlu `datang dan lihat` yang berarti kita datang bertemu dengan Tuhan dalam sakramen-sakramen dan kehidupan rohani agar dapat keselamatan dari Allah.

September 28, 2021

Renungan Selasa, 28 September 2021

Lukas 9:51-56 


Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"  Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain. 


Renungan


Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari TUHAN semesta alam di Yerusalem dan melunakkan hati TUHAN. Dari ayat ini mari sejenak kita membuat suatu kesepakatan dalam diri kita masing-masing. Kemana kita arahkan hidup kita? Menuju Tuhan atau hanya sekitar dunia ini saja? Silahkan Anda membuat suatu keputusan!


Orang Samaria dalam Injil bisa saja adalah diri kita masing-masing. Setiap hari Yesus ingin datang kedalam hati kita, rumah kita, pekerjaan kita, atau bahkan persoalaan hidup kita, tapi apakah kita mebiarkan Yesus masuk dan ambil bagian di dalamnya? Apakah kita juga membiarkan-Nya untuk mengerjakan karya keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita? Atau membiarkan Yesus hanya melewati kita saja?


Setiap hari adalah rahmat yang ditawarkan oleh Allah bagi kita, namun tergantung bagaimana kita menanggapi dan menerima rahmat itu. Hidup kita tergantung sepenuhnya pada rahmat itu. Maukah kita menerima kedatangan Yesus yang hadir mengunjungi hidup kita setiap hari? Maukah Anda menerima-Nya?

September 27, 2021

Renungan Senin, 27 September 2021

 Lukas 9:46-50 

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.  Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."  Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."


Renungan

Apakah Anda ingat lagu anak-anak ini? Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali... Lagu ini mengungkapkan kepercayaan seorang anak kecil akan kasih ibunya yang tidak terhingga, berlaku sepanjang masa dan hanya tahu memberi tanpa mengharapkan imbalan. Kasih seorang ibu yang digambarkan melalui lagu tersebut dapat kita jadikan sebagai perwujudan kasih Allah bagi kita, tetapi tentunya kasih Allah jauh lebih sempurna.

Allah menghendaki agar kita mengalami kasih-Nya sejak kita masih kecil, sehingga ia menjadikan orang-orang yang ada dalam hidup kita sebagai saluran kasih-Nya. Tidak cukup apabila kita berhenti sampai di situ. Allah juga menghendaki agar kita pun dapat menjadi saluran kasih-Nya bagi semua orang, tanpa terkecuali termasuk orang-orang miskin yang ada di sekitar kita. Mari kita belajar dari Paulo yang telah menjadi saluran kasih Allah melalui kongregasi yang didirikannya untuk memberi bantuan kepada fakir miskin.


`Tidaklah cukup bagiku untuk mengasihi Tuhan jika aku tidak mengasihi sesamaku...Aku ini milik Tuhan dan milik kaum miskin` kata  Paulo.

September 24, 2021

Renungan Jumat, 24 September 2021

 Lukas 9:19-22

Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah."  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."


Renungan

Inti hidup Kristen adalah hubungan pribadi dengan Allah dalam Kristus karena rahmat Roh Kudus. Kita mengaku diri sebagai orang Kristen, `Sudah berapa lama Anda mengimani Yesus? Dalam waktu tersebut, sejauh mana Anda mengenal Yesus?`

Selama ini kita tahu Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Yesus adalah Juruselamat. Tahu kemudian kita mengakui fakta ini dengan mulut, tidaklah cukup. Jika kita mengimani dan mencintai Dia, kita harus menjalin hubungan pribadi yang mendalam dengan-Nya. Dan membiarkan Dia terlibat dalam seluruh hidup kita. Jadi sungguh relevan bukan, pertanyaan Yesus pada hari ini: `Menurut kamu, siapakah Aku ini?`

Lalu kalau mau menjalin hubungan pribadi dengan Allah, bagaimana caranya? Yaitu dengan menghayati hidup sakramental. Kemudian menghayati doa dan pembacaan Kitab Suci secara pribadi.

Perjumpaan-perjumpaan pribadi tersebut dilakukan secara teratur, sehingga hubungan kita dengan Allah menjadi semakin mendalam. Theresia Lisieux berkata,`Hidupku adalah satu saat yang tak terpegang dan tak kukuasai. Engkau tahu, ya Tuhan, untuk mencintai-Mu di dunia ini, aku hanya punya hari ini. Mari kita mulai membina hubungan dengan Tuhan.

September 23, 2021

Renungan Kamis, 22 September 2021

 Lukas 9:7-9

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.

Tetapi Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.


Renungan


Terkadang di dalam menghadapi kesukaran hidup, kita lupa bahwa kita memiliki Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu, sehingga kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri, seperti bangsa Israel yang masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri dan tetap meninggalkan Rumah Tuhan sebagai reruntuhan. Nabi Hagai mengingatkan kita, bahwa Rumah Tuhan-lah yang harus kita dahulukan, sebab segala berkat dan pertolongan datang dari Allah.

Bagi kita orang percaya, seperti yang dikatakan  Paulus, kitalah bait Allah tersebut. Oleh sebab itu, kita pun diajak untuk membangun Rumah Tuhan. Membangunnya terutama atas dasar doa dan Sabda Allah, meneguhkan dan membersihkan-Nya dalam penerimaan dan penghayatan kebajikan-kebajikan ilahi. Kita belajar dari Padre Pio. Hidupnya tidak pernah lepas dari doa: ia mencintai Sabda Allah dan bersatu dengan Sang Sabda, penghayatannya akan sakramen-sakramen sangat mendalam, sehingga jiwanya bersinar oleh kebajikan ilahi.

September 22, 2021

Renungan Rabu, 22 September 2021

 Lukas 9:1-6 

Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,  kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka." Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.


Renungan


Apakah Anda sedang mengalami kepahitan dan penderitaan, namun Anda tak berdaya untuk mengubah keadaan ini? Anda ingin semua penderitaan itu berakhir di dunia ini atau berkelanjutan sampai hidup yang kekal? Apa yang menjadi harapan Anda saat ini? Inilah yang dapat Anda harapkan: Allah sungguh mengasihi kita, bahkan dalam penderitaan yang sedang kita alami, Allah tidak meninggalkan kita.


Allah selalu menawarkan kebahagiaan yang sejati dan abadi. Allah terus melanjutkan karya penyelamatan-Nya entah kita sadar, percaya, mau atau tidak. Melalui Sabda dan utusan-Nya, Allah menunjukan keberadaan Kerajaan-Nya yang penuh kuasa, bahagiaan, dan bebas. Di dalam Allah kita mengalami kebebasan dari belenggu, perbudakan, siksaan setan, maut, dosa dan sakit penyakit. Bukankah inilah yang menjadi kerinduan setiap manusia yang diciptakan untuk Allah dan untuk menikmati kebahagiaan kekal?Bila kita membuka hati untuk menerima Firman Allah dan percaya serta setia berpegang pada Tuhan, maka kita akan memiliki kebahagiaan dan kebebasan yang kekal itu.

September 21, 2021

Renungan Selasa, 21 September 2021

 Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.  Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Renungan

Hari ini kita diperlihatkan suatu situasi dimana Tuhan Yesus yang begitu mencintai orang-orang berdosa, datang dan memanggil Matius pemungut cukai dengan berkata `Ikutlah Aku` dan dalam kesempatan yang sama Tuhan Yesus terlihat makan bersama dengan banyak pemungut cukai dan orang berdosa di rumah Matius.

Seperti matius, kita menjadi pengikut kristus pertama-tama bukan karena kita yang memilih, tapi Tuhanlah yang memilih kita. Tuhan tidak mau kita larut dalam dosa-dosa kita, Pada Injil Matius , dikatakan-Nya `Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa`. Dan Tuhan tidak pernah lelah sedetikpun untuk menjaga dan membimbing kita.

Dalam Matius hari ini, kita diajak untuk menyadari sekalipun kita telah berdosa dan merasa jijik dengan diri kita sendiri, namun kita tetap sangat berharga di hadapan Tuhan; Menjadi seorang kristen adalah panggilan. Yesus yang mengatakan `Ikutilah aku`, supaya kita diselamatkan-Nya. Tuhan selalu tinggal bersama kita seperti yang ditunjukkan dalam Injil Matius hari ini: `Ia makan dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa`, begitu pula Ia selalu ada, dan berdiam di hati kita.

September 20, 2021

Renungan Senin, 20 September 2021

Lukas 8:16-18 

"Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."


Renungan

Dalam hidup sehari-hari, cara kita mengdengarkan sangat menentukan tindakan dan hidup kita. Contoh, kita tidak bisa menjadi seorang yang baik dan sukses kalau kita tidak mau mendengar nasihat-nasihat baik dari orangtua, guru, atasan, atau pimpinan kita. Demikian juga dalam hidup rohani. Kita tidak dapat hidup dan menghasilkan buah baik kalau tidak mendengar Sabda Tuhan dengan baik.


Kata Yesus kepada kita Perhatikanlah cara kamu mendengar. Yesus mengingatkan kita untuk mendengarkan dengan baik Sabda Allah yang disampaikan-Nya. Sabda seperti pelita yang dinyalakan oleh Yesus. Maka, kita-orang-orang Kristen tidak boleh menutupi atau menyembunyikan pelita, supaya terangnya bisa dilihat oleh orang-orang luar (orang-orang belum percaya) yang bergabung menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Yesus menaburkan benih Sabda atas kita semua, siapa saja yang mendengarkan dengan baik, akan berbuah banyak. Sebaliknya orang yang tidak mendengarkan dengan baik, akan kehilangan segala-galanya. Pertanyaan bagi kita adalah `saya mau yang mana?`. Jangan salah memilih saudara!


September 17, 2021

Renungan Jumat, 17 September 2021

 Lukas 8:1-3 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.


Renungan

Kepemimpinan adalah masalah kecerdasan, kepercayaan, kemanusiaan, dan disiplin... Ketergantungan pada kecerdasan saja menghasilkan pemberontakan. Latihan kemanusiaan saja menghasilkan kelemahan. Fiksasi pada kepercayaan menghasilkan kebodohan. Ketergantungan pada kekuatan keberanian menghasilkan kekerasan. Disiplin yang berlebihan dan ketegasan dalam memberi perintah menghasilkan kekejaman. Ketika seseorang memiliki kelima kualitas ini, bersama-sama, masing-masing sesuai dengan fungsinya, maka dia bisa menjadi pemimpin.`

Seorang pemimpin yang dikehendaki Tuhan Yesus adalah yang siap menjadi hamba dari semua dan melayani dengan kasih . Gaya kepemimpinan ini didasarkan pada teladan pemberian diri seutuhnya. Kurban Kristus, mati di atas kayu salib sebagai tebusan bagi banyak orang. Dengan cara ini Ia telah menarik banyak jiwa kepada-Nya, sehingga keselamatan menjadi mungkin bagi manusia yang berdosa. Kita masing-masing juga dipanggil untuk menjadi pemimpin yang melayani, baik didalam keluarga, komunitas Gereja, ataupun dalam masyarakat. Maukah kita menjadi pemimpin yang sesuai dengan teladan Kristus?

September 16, 2021

Renungan Kamis, 16 september 2021

 

Lukas 7:36-50  


Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.

Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.  

Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.

Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"

Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.

Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.

Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."

Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"

Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"


renungan


Kitab kebijaksanaan berkata: `Andaikata seseorang adalah sempurna di antara anak-anak manusia, tapi kebijaksanaan yang berasal dari padaMu tidak ada, niscaya ia tidak terbilang apa-apa`.


Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa tak ada orang yang sempurna. Bahkan bila dikatakan dia sempurna itu maksudnya juga hanya dalam bidang tertentu saja. Maka pastilah siapapun juga pernah melakukan kesalahan baik kecil maupun besar. Apa yang Anda harapkan ketika berbuat kesalahan? Tentunya tidak lain daripada dimaafkan bukan? Mereka akan merasa sangat bersyukur dan berterimakasih terhadap orang yang sudah memaafkannya.

Kita juga tahu masa lalu Maria Magdalena yang menjadi kudus karena pengalaman sentuhan kasih Allah yang mereka alami. Seperti pengalaman yang dialami oleh perempuan berdosa dalam bacaan Injil hari ini, `dosamu telah diampuni`. Rahmat pertobatan terjadi ketika seseorang mengalami pengalaman dicintai, diterima dan diampuni, bukan di saat ia dihakimi. Saudara, yang mengubah kita menjadi baik bukanlah penghakiman, melainkan belas kasih. Marilah kita belajar mencintai!

September 15, 2021

Renungan Rabu, 15 September 2021

Yohanes 19:25-27 


Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. 

Renungan

Kutipan singkat dari Injil ini, mari kita renungkan secara mendalam. Kita hidupkan kembali adegan itu. Kita cermati di mana kita ikut berdiri di sana dan mendengar pernyataan-Nya dari salib. Kita amati wajah mereka yang berdiri dekat salib Yesus dan kemudian ke wajah Yesus. Mereka sedih sekali, tetapi juga berserah. Mereka diam dalam kekecewaan yang mencekam.

Dalam keheningan seperti inilah Sabda Yesus dari salib terdengar demikian tegas dan jelas. `Ibu, inilah anakmu!` Kemudian :`Inilah ibumu!` Kata-kata yang diucapkan Yesus dari salib yang menyatakan keibuan dari dia yang melahirkan Kristus, menemukan makna yang mendalam di dalam Gereja. Maria yang `penuh rahmat` dibawa ke dalam misteri Kristus agar menjadi Bunda-Nya.

Yesus telah memberikan Maria sebagai Bunda kita. Dukacitanya yang telah dinubuatkan oleh Simeon saat bertemu di Kenisah Allah. Namun ia tetap setia pada tugasnya sampai di kaki salib. Selanjutnya, ia memelihara kita yang berjuang dalam peziarahan hidup kita menuju rumah Bapa. Semoga kita pun tetap setia dalam jalan salib-Nya.

September 14, 2021

Renungan Selasa, 14 September 2021

 Yohanes 3:13-17 


Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.


Renungan


Sebagai orang Kristen, kita pasti menempatkan salib  ruang rumah. Terkadang kita juga menggunakan salib itu sebagai perhiasan. Karena kita sudah terlalu biasa melihat salib di mana-mana, akhirnya kita mulai kehilangan maknanya dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa.

Apakah sebenarnya arti salib itu? Salib merupakan tanda cinta Allah bagi kita: cinta-Nya yang tanpa pamrih dan tanpa batas. Allah sungguh mencintai kita sampai memberikan segala-galanya bagi kita, bahkan sampai memberikan Putra-Nya sendiri untuk kita. Yesus menerima, menanggung, dan mengambil semua hukuman yang sepatutnya kita terima karena dosa-dosa kita. Ia menanggung semuanya itu karena kasih-Nya yang amat besar kepada kita: kasih yang tanpa syarat dan kasih yang memberikan segala-galanya demi keselamatan orang yang dikasihi-Nya.

Salib Kristus bukanlah sebuah tanda penghinaan atau sebuah hal yang memalukan, namun salib Kristus merupakan sebuah tanda kemenangan: tanda kemenangan cinta Allah atas maut yang menghancurkan. Dari salib Kristus, terpancarlah kasih Allah yang amat besar kepada kita.

September 13, 2021

Renungan senin, 13 september 2021

 Lukas 7:1-10

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."  Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;  sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali. 


Renungan 


Dalam Injil hari ini kita mendengarkan bagaimana Yesus memuji seorang perwira Romawi di depan orang banyak: `Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun diantara orang Israel!`. Mengapa Yesus memuji perwira Romawi ini? Ia percaya pada kuasa Yesus yang tidak terbatas. Perwira ini percaya pada pribadi Yesus tanpa ada keraguan dalam hati-nya. Iman seperti inilah yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma: `Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.` 


Yohanes   memberikan teladan iman dalam perbuatan dan perkataan. Ia seorang  yang saleh dan terkenal dengan julukan `Si Mulut Emas`, bukan hanya karena ia memiliki kefasihan dalam berbicara, namun setiap perkataan yang diucapkannya memiliki kuasa untuk membuat orang berbalik dan bertobat. Setiap perkataan yang diucapkannya merupakan bukti dari imannya akan Yesus Kristus sehingga ia mampu menguraikan Sabda Tuhan secara mendalam. Setiap khotbahnya sangat menarik dan banyak umat mengalami berkat melalui khotbahnya. Buktikan juga iman Anda melalui tindakan nyata.

September 10, 2021

Renungan Jumat, 9 September 2021

 Lukas 6:39-42 

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."


Renungan

Kata-kata Yesus ini keras di telinga orang-orang munafik, yaitu orang yang nampak baik di luar, sehinga mereka tidak ada toleransi dengan sesama, yang kelihatan kekurangannya. Yesus secara blak-blakan menunjuk kepada `orang baik,` atau `orang saleh` itu agar melihat keadaan/kondisi, melihat dirinya sendiri, sebelum menegur atau memperbaiki orang lain alias harus mawas diri sendiri dulu sebelum menegur/memperbaiki orang lain.. Jadi mawas diri itu yang utama dan akhirnya tidak jadi menegur/memperbaiki orang lain, karena yang dlihat di saudaranya itu sama atau lebih sedikit dari pada yang ada padanya. Yesus mau supaya murid-murid-Nya `tidak mengadili` dan `tidak menghakimi,` tapi supaya mereka `mengampuni` dan `memberi `. Hal ini sulit kita lakukan dengan kekuatan sendiri tapi kita belajar dari Paulus untuk mempercayakan hal itu kepada Allah. Juga seperti si pemazmur, `yang senantiasa memandang kepada Tuhan`.

September 08, 2021

Renungan Rabu, 8 September 2021

 Markus 7:31-37 

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.

Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!

Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."


Renungan


Hal mendengarkan sesama kita adalah pekerjaan yang tidak mudah. Ada banyak orang sulit untuk mendengarkan, tidak mau bersabar, dan cepat-cepat ingin selesai supaya tidak merasa terbeban masalah orang lain. Untuk bisa mendengarkan dengan baik dibutuhkan kedekatan, kerelaan hati, perlu diam, perlu menyingkirkan suasana hati yang keruh.


Dalam Injil, Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang tuli dan menjadikannya mendengar dan berkata-kata. Tergerak oleh belaskasihan, Yesus memulihkan relasi orang yang tuli supaya bisa mendengarkan apa yang disabdakan-Nya serta berkata-kata sebagai wujud pewartaan tindakan Yesus yang menyelamatkan. Yesus Kristus adalah Sang Sabda. Ketika orang tuli itu bisa mendengar, ini pertanda bahwa cara mendekatkan diri kita terhadap Sabda Tuhan hanya dengan mendengarkan-Nya. Kita bisa saja mengalami kegagalan mendengarkan Sabda Tuhan sebagai pelita dalam hidup kita, sehingga menuntun manusia ke dalam dosa. Terkadang kita gagal melayani sesama untuk mendengarkannya hanya karena tidak punya waktu, perasaan kesal, jengkel, malu atau takut. Oleh karena itu, luangkan waktu untuk melayani sesama dan mendengarkan Sabda-Nya.

September 07, 2021

Renungan Selasa , 7 September 2021

 Lukas 6:12-19 

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.  Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,  Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,  Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.  Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan

Paulus mengingatkan untuk waspada terhadap kepalsuan yang tidak taat kepada Kristus , juga menasihati orang Kolose untuk melawan bujukan guru palsu dan mereka harus teguh pada kebenaran. Mereka telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan harus hidup sebagai orang yang telah disatukan dengan Dia. Paulus juga menjelaskan bahwa orang Kristen tidak perlu bergantung kepada roh misterius manapun karena telah berpartisipasi secara penuh di dalam Kristus yang berkuasa atas segala-nya. Dalam Kristus kita ambil bagian dalam kuasa-Nya atas roh-roh manapun dan tidak perlu menyembah mereka.

Seperti yang dikatakan juga dalam Injil Lukas semua orang yang berusaha menjamah Yesus akan ada kuasa yang keluar dari Tuhan dan semua orang itu disembuhkan-Nya. Bagaimana dengan kita orang-orang yang telah dibaptis, apakah tetap teguh dalam iman dan berusaha hidup bersatu dengan-Nya dengan tidak memercayai roh-roh duniawi yang menyesatkan. Marilah kita terus mendekat kepada Yesus, mencari dan melakukan kehendak-Nya. Saat kita terus terarah pada kasih-Nya maka kuasa dan kasih Tuhan akan menyembuhkan jiwa dan fisik kita.


September 06, 2021

Renungan Senin, 6 September 2021

 Lukas 6:6-11 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.  Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. 


Renungan

Mungkinkah ada sukacita dalam penderitaan? Jawabannya bisa ya dan tidak. Jawaban `ya,` dalam penderitaan ada sukacita, karena kita melihat penderitaan dalam kacamata iman. Tidak mungkin dalam penderitaan ada sukacita jika kita melihatnya dengan kecamata manusiawi belaka. Pada dasarnya manusia pasti menghindari penderitaan, terlebih lagi di zaman modern ini, apapun akan dilakukan untuk meraih `kebahagiaan`, meskipun yang didapatkan hanyalah kebahagiaan yang semu, yaitu hanya untuk memenuhi kenyamanan kita.


Hari ini Paulus mengajarkan kepada kita bagaimana bersukacita dalam penderitaan, karena meskipun manusia berusaha menghindari penderitaan, namun penderitaan merupakan sebuah realitas yang akan tetap ada dalam hidup manusia. Paulus menempatkan penderitaan sebagai sarana untuk memberikan diri bagi sesama dan menerima penderitaan sebagai sebuah partisipasi dalam penderitaan Kristus. Paulus tidak bersukacita semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi ia bersukacita karena melalui penderitaan ia dapat memberikan dirinya untuk Kristus itu sendiri.

September 03, 2021

Renungan Jumat, 3 September 2021

 Lukas 5:33-39 

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."


Renungan

Seringkali karena melakukan kegiatan yang sama dan berulang-ulang kita menjadi lupa apa makna dan tujuan awal kita melakukan hal tersebut, bahkan kita hanya melakukannya sekadar ikut apa kata orang, atau terpaksa menerima keadaan yang tidak enak karena situasi yang mendesak, sehingga sepanjang perjalanan kita melakukannya dengan mengeluh dan semuanya terasa semakin membosankan bahkan bertambah berat.

Dari kisah Injil kali ini dimana orang Farisi protes pada Yesus karena para rasul tidak berpuasa seperti mereka, kita dapat mengerti bahwa Yesus sendiri menegaskan bahwa Dialah yang harus dijadikan pusat hidup agar segalanya memberi manfaat yang seutuhnya bagi kita, bukan hanya sekadar ikut-ikutan atau karena memang sudah nasib harus diterima. Menyadari bahwa kita melakukan sesuatu bagi Yesus dan bersama Yesus akan membuat perbuatan itu sendiri bermakna karena semakin mendekatkan kita kepada Kristus yang adalah tujuan hidup kita. Meskipun hal yang tampaknya tidak berhubungan langsung dengan iman; menggunakan masker, menjaga jarak, work from home, mencuci tangan, minum vitamin dan sebagainya, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.

September 02, 2021

Renungan Kamis, 2 September 2021

 Lukas 5:1-11 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.  Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."  Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.   Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;  demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.


Renungan

Pasti tidak pernah terpikirkan dalam benak Petrus bahwa perjumpaannya dengan Yesus akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Nelayan penjala ikan menjadi penjala manusia? Sebuah misteri kehidupan. Apa pula yang menjadikan ia begitu percaya pada perkataan Yesus  dan kemudian berani meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus ?

Jawabannya adalah pada pengalaman (iman) yang dialami sendiri oleh Simon dan saudara-saudaranya. Pengalamannya sebagai nelayan handal, terpatahkan oleh wibawa dan perkataan Yesus yang penuh kuasa. Apa yang telah didengar, dilihat dan dialami oleh Simon ,  inilah yang mengalahkan seluruh pemikiran mereka sendiri dan dengan ikhlas berani mempercayakan masa depan mereka ditangan-Nya. Mereka percaya bahwa Yesus lebih besar dan berkuasa melebihi segala sesuatu. Sabda Yesus `jangan takut` mengandung janji yang menguatkan mereka bahwa Ia menjamin masa depan mereka yang percaya kepada-Nya dan seturut rencana-Nya mengubah jalan hidup orang-orang yang dipilih-Nya.


September 01, 2021

Renungan Rabu, 1 September 2021

 Lukas 4:38-44 

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. 


Renungan

Ketika Ibu mertua Simon mengalami kesembuhan dia segera bangun dan melayani. Yesus menyembuhkan banyak sekali orang sakit, mungkin kita juga termasuk salah seorang yang sudah disembuhkan dan ditolong Yesus. Tetapi apakah kita juga seperti ibu mertua Simon yang setelah disembuhkan kita kemudian mau melayani Tuhan. Ataukah kita hanya diam saja dan menyimpan semua kebaikan Tuhan di dalam hati kita.

Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia . Injil dapat berbuah dan berkembang kalau orang-orang yang telah mengalami kasih Allah dalam hidupnya mau bangun dan melayani. Marilah kita menanggapi panggilan Tuhan dalam hidup kita untuk mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan yang telah kita terima dalam hidup kita.

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...