Yohanes 13:16-27
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku." Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?" Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."
Renungan
Ayat di atas mengingatkan kita sebagai orang yang dipanggil mengikuti Yesus supaya tidak mengharapkan nasib yang lebih baik daripada apa yang dialami Yesus. Setiap orang Kristen dipanggil oleh Yesus menjadi utusan-Nya dalam bentuk pelayanan apapun yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.
Sebagai seorang utusan tidak perlu menghitunghitung sukses atau kegagalan yang dialaminya. Ia haruslah merasa puas, bila ia ditolak atau diterima seperti Tuhan yang mengutusnya mengalami hal yang sama. Berbahagialah sebab diperkenankan ambil bagian dalam penderitaan Tuhan dan merasakan hal yang sama seperti tuannya. Ketika mengalami cobaan dan tantangan, ia dapat mempersatukannya bersama dengan Yesus. Di dalam perutusan, jika kita dapat menerima dan menghargai segala berkat dan salib penderitaan yang dialami dengan tulus hati, maka kita akan mengalami damai dan sukacita-Nya.

