Juli 18, 2020

Renungan, Sabtu 18 Juli 2020

Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih

Ayub 7:1-21 

"Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah. Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik. Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi. Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya. Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku. 
Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku? Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku, maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal, sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku. Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja. Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan, dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku? Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku? Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi." 

Mazmur 10:1-4, 7-8, 14 

Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan? Karena congkak orang fasik giat memburu orang yang tertindas; mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancangkan. Karena orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista TUHAN. Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!", itulah seluruh pikirannya. Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, dengan tipu dan penindasan; di lidahnya ada kelaliman dan kejahatan. Ia duduk menghadang di gubuk-gubuk, di tempat yang tersembunyi ia membunuh orang yang tak bersalah. Matanya mengintip orang yang lemah; Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong. 

Matius 12:14-21 

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap." 

Renungan

Ketika puluhan ribu pendemo tolak Ahok menjadi Gubernur  DKI jakarta sekitar tahun 2016. Presiden RI Joko Widodo sedang blusukan ke Bandara Soekarno-Hatta untuk meninjau pembangunan infrastruktur jalur kereta listri ke bandara. Banyak orang menilai tindakan ini sebagai tindakan simbolis untuk menyatakan bahwa masih ada hal yang lebih penting dilakukan di negara ini daripada meladeni demonstrasi penuh kebencian tersebut.

Peristiwa itu membantu kita memahami mengapa Yesus menyingkir ketika Dia tahu orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuhNya. Tuhan Yesus melakukan itu bukan mencari aman dan keselamatan diri, tetapi Dia tidak ingin masuk dalam konfrontasi emosional dan penuh kekerasan. Yesus mempunyai misi mewartakan kebenaran bukan untuk melakukan kekerasan. Yesus merespon rencana yang tidak manusiawi itu dengan perbuatan kasih. Tanpa mempedulikan bahaya yang sedang mengintaiNya, Ia menyembuhkan orang-orang yang mengikutiNya. Hal ini Dia lakukan untuk menunjukkan betapa besar kasih Allah bagi orang yang tak berdaya. 

Yesus mengutamakan misi penyelamatan manusia daripada popularitas diri dan keselamatan JiwaNya. Dalam injil hari ini gambaran Yesus sebagai pemenuhan atas nubuat Nabi Yesaya. Dia adalah hamba yang dikasihi Allah dan dipenuhi Roh-Nya. Ia tenang dan mampu mengontrol diri dalam menghadapi tantangan , tidak teriak marah-marah atau mengancam orang. Dia adalah tanda kasih Allah bagi manusia yang membela mereka yang lemah dan tak berdaya.

Yesus adalh inspirasi bagi kita ketika menghadapi konflik dan tantangan dalam karya pewartaaan dan pelayanan. Sebagai orang kristen kita pun adalah hamba-hamba Allah yang diutus untuk mewartakan kebenaran dan mewujudkan kasih Allah. Kita akan menghadapi aneka ragan reaksi, termasuk kebencian. Maka hidup Yesus mengajarkan bahwa kebenaran tidak perlu dipaksakan atau dibuktikan dengan kekerasan atau pedang tetapi dengan kelemahlembutan dan hidup yang berintegritas

Tuhan Yesus Memberkati

9 komentar:

  1. Kita harus mengutamakan hal-hal yang penting daripada yang tidak penting

    BalasHapus
  2. Ezra - Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan tidak ditunjukan melalui kekerasan, kita sebagai manusia harus memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus kepada orang orang, bukannya bertindak suatu kekerasan

    BalasHapus
  3. kita harus menyingkir dari yang jahat, dan kita harus mngandalkan yesus ketika menghadapi konflik

    BalasHapus
  4. Kita harus tenang dan mampu mengontrol diri dalam menghadapi tantangan, tidak teriak marah-marah atau mengancam orang.

    BalasHapus
  5. Kita harus bisa mengontrol diri dalam menghadapi tantangan (Vanessa)

    BalasHapus
  6. Kebenaran tidak harus dibuktikan melalui kekerasan, marah marah dan lainnya. tapi melalui hal hal yang baik

    BalasHapus
  7. Nadine
    Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebenaran harus dilakukan dengan kelemahlembutan dan hidup yang berintegritas

    BalasHapus
  8. catherine kurniawan18 Juli 2020 pukul 22.13

    Kita harus mengontrol diri dalam menghadapi tantangan dan tetap berdoa kepada Tuhan.

    BalasHapus
  9. Ketika menghadapi masalah kita harus terus melakukan nya dengan damai sejahtera dan kita harus terus berdoa
    -Jocelyn-

    BalasHapus

Renungan Jumat, 19 November 2021

 Lukas 19:45-48  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis...