Mazmur 84:3-6, 8-11
(Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi! Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.
Matius 13:47-53
"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ.
Renungan
Hari ini pemazmur mengajak kita untuk mengejar kebahagiaan yang sejati. Orang berbahagia ketika ia berada di dalam rumah Tuhan. Maka pertanyaannya adalah, `Apakah dengan demikian kita harus selalu ada di dalam Gereja, atau ruang doa kita sehingga kita menjadi bahagia?` Jawabannya adalah tidak.
Rumah kediaman Tuhan yang paling indah adalah hati manusia. Agustinus berkata bahwa hati manusia diciptakan begitu luas, sehingga hanya Allah sendiri yang dapat mengisi dan memuaskanya. Inilah kebahagiaan sejati itu, ketika kita benar-benar menjadikan hati kita kediaman Allah dengan menyingkirkan segala amarah, kebencian, hawa nafsu, dendam, iri hati, kesombongan, keinginan yang tidak teratur, kelekatan pada harta benda atau kekuasaan. Hanya bersama Allah kita akan merasakan kebahagiaan, ketika kita membiarkan hati kita diipenuhi dengan kasih Allah, maka damai dan sukacita sejati akan senantiasa ada dalam hati kita, maka apapun yang terjadi dalam hidup kita sekalipun itu adalah yang tersulit, kita akan tetap bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar